Air Mata yang Menjadi Bunga di Kuburan Cinta
Di taman kota yang remang-remang, di bawah naungan pohon sakura yang berguguran, Lin Wei berdiri anggun. Gaun sutra berwarna lavender memeluk tubuhnya, kontras dengan dinginnya malam. Senyum tipis bermain di bibirnya, senyum yang dipelajarinya dengan susah payah, senyum yang MENIPU.
"Xin, kenapa kamu memintaku bertemu di sini?" Suaranya lembut, bagai desiran angin di antara dedaunan.
Xin, lelaki yang dulu dicintainya sepenuh hati, berdiri di hadapannya. Wajah tampannya terlihat pucat di bawah cahaya bulan. Dulu, wajah inilah yang membuatnya tergila-gila, wajah yang kini terasa asing dan MEMUAKKAN.
"Wei, aku…" Xin memulai, suaranya tercekat.
Lin Wei mengangkat tangannya, menghentikan kata-kata Xin. "Jangan dilanjutkan, Xin. Aku sudah tahu."
Ia tahu segalanya. Tentang perselingkuhan Xin dengan sekretarisnya, tentang rencana Xin untuk merebut perusahaan keluarganya, tentang semua JANJI yang kini berubah menjadi BELATI tajam yang menghunus jantungnya.
Dulu, pelukan Xin terasa hangat, menenangkan. Kini, Lin Wei hanya merasakan RACUN yang perlahan membunuhnya dari dalam. Ia ingat setiap bisikan cinta, setiap janji setia yang diukir di langit malam. Sekarang, yang tersisa hanyalah debu dan abu.
Lin Wei menatap Xin lurus-lurus, tanpa amarah, tanpa air mata. Hanya kekosongan. "Aku tidak akan berteriak, Xin. Aku tidak akan menangis. Aku tidak akan memohon."
Ia menarik napas dalam-dalam. "Aku hanya akan pergi. Dan kamu, Xin, akan hidup dengan penyesalanmu selamanya."
Beberapa bulan kemudian, Xin sukses merebut perusahaan keluarga Lin Wei. Ia merasa menang, KUAT, HEBAT. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Bisnisnya mulai merosot, satu per satu partner meninggalkannya. Sekretaris yang menjadi selingkuhannya ternyata licik dan tamak, menguras hartanya perlahan namun pasti.
Suatu hari, Xin menerima sebuah paket anonim. Di dalamnya, terdapat sekotak kecil biji bunga. Di atasnya tertera tulisan tangan: "Bunga Lin Wei."
Dengan bingung, Xin menanam biji-biji itu di halaman belakang rumahnya. Awalnya, tidak ada yang tumbuh. Namun, seiring berjalannya waktu, dari tanah yang gersang itu tumbuhlah bunga-bunga yang INDAH, berwarna lavender, persis seperti gaun yang dikenakan Lin Wei malam itu.
Setiap kali Xin memandang bunga-bunga itu, ia merasa ada tangan tak kasat mata yang mencengkeram hatinya. Ia melihat senyum Lin Wei di setiap kelopak, mendengar suaranya di setiap hembusan angin. Ia dihantui PENYESALAN yang abadi. Ia merindukan Lin Wei, merindukan cinta yang telah ia khianati.
Bunga-bunga itu terus tumbuh subur, menutupi seluruh halaman. Setiap orang yang melihatnya memuji keindahannya. Namun, bagi Xin, bunga-bunga itu adalah kuburan cintanya, di mana air mata Lin Wei telah menjadi pupuk yang menyuburkan dendam yang manis namun pahit. Ia TERJEBAK dalam keindahan yang menghantuinya.
Lalu, Xin pun meninggal dunia, meninggalkan taman bunga lavender yang menjadi MONUMEN penyesalannya yang abadi. Orang-orang tetap datang untuk mengagumi keindahannya, tanpa tahu bahwa di balik keindahan itu tersimpan sebuah tragedi, sebuah KUTUKAN yang abadi.
Cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama… BUKANKAH BEGITU?
You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Bimbingan