Air Mata yang Menjadi Bunga di Kuburan Cinta Di taman kota yang remang-remang, di bawah naungan pohon sakura yang berguguran, Lin Wei berd...

Cerpen Keren: Air Mata Yang Menjadi Bunga Di Kuburan Cinta Cerpen Keren: Air Mata Yang Menjadi Bunga Di Kuburan Cinta

Air Mata yang Menjadi Bunga di Kuburan Cinta

Di taman kota yang remang-remang, di bawah naungan pohon sakura yang berguguran, Lin Wei berdiri anggun. Gaun sutra berwarna lavender memeluk tubuhnya, kontras dengan dinginnya malam. Senyum tipis bermain di bibirnya, senyum yang dipelajarinya dengan susah payah, senyum yang MENIPU.

"Xin, kenapa kamu memintaku bertemu di sini?" Suaranya lembut, bagai desiran angin di antara dedaunan.

Xin, lelaki yang dulu dicintainya sepenuh hati, berdiri di hadapannya. Wajah tampannya terlihat pucat di bawah cahaya bulan. Dulu, wajah inilah yang membuatnya tergila-gila, wajah yang kini terasa asing dan MEMUAKKAN.

"Wei, aku…" Xin memulai, suaranya tercekat.

Lin Wei mengangkat tangannya, menghentikan kata-kata Xin. "Jangan dilanjutkan, Xin. Aku sudah tahu."

Ia tahu segalanya. Tentang perselingkuhan Xin dengan sekretarisnya, tentang rencana Xin untuk merebut perusahaan keluarganya, tentang semua JANJI yang kini berubah menjadi BELATI tajam yang menghunus jantungnya.

Dulu, pelukan Xin terasa hangat, menenangkan. Kini, Lin Wei hanya merasakan RACUN yang perlahan membunuhnya dari dalam. Ia ingat setiap bisikan cinta, setiap janji setia yang diukir di langit malam. Sekarang, yang tersisa hanyalah debu dan abu.

Lin Wei menatap Xin lurus-lurus, tanpa amarah, tanpa air mata. Hanya kekosongan. "Aku tidak akan berteriak, Xin. Aku tidak akan menangis. Aku tidak akan memohon."

Ia menarik napas dalam-dalam. "Aku hanya akan pergi. Dan kamu, Xin, akan hidup dengan penyesalanmu selamanya."

Beberapa bulan kemudian, Xin sukses merebut perusahaan keluarga Lin Wei. Ia merasa menang, KUAT, HEBAT. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Bisnisnya mulai merosot, satu per satu partner meninggalkannya. Sekretaris yang menjadi selingkuhannya ternyata licik dan tamak, menguras hartanya perlahan namun pasti.

Suatu hari, Xin menerima sebuah paket anonim. Di dalamnya, terdapat sekotak kecil biji bunga. Di atasnya tertera tulisan tangan: "Bunga Lin Wei."

Dengan bingung, Xin menanam biji-biji itu di halaman belakang rumahnya. Awalnya, tidak ada yang tumbuh. Namun, seiring berjalannya waktu, dari tanah yang gersang itu tumbuhlah bunga-bunga yang INDAH, berwarna lavender, persis seperti gaun yang dikenakan Lin Wei malam itu.

Setiap kali Xin memandang bunga-bunga itu, ia merasa ada tangan tak kasat mata yang mencengkeram hatinya. Ia melihat senyum Lin Wei di setiap kelopak, mendengar suaranya di setiap hembusan angin. Ia dihantui PENYESALAN yang abadi. Ia merindukan Lin Wei, merindukan cinta yang telah ia khianati.

Bunga-bunga itu terus tumbuh subur, menutupi seluruh halaman. Setiap orang yang melihatnya memuji keindahannya. Namun, bagi Xin, bunga-bunga itu adalah kuburan cintanya, di mana air mata Lin Wei telah menjadi pupuk yang menyuburkan dendam yang manis namun pahit. Ia TERJEBAK dalam keindahan yang menghantuinya.

Lalu, Xin pun meninggal dunia, meninggalkan taman bunga lavender yang menjadi MONUMEN penyesalannya yang abadi. Orang-orang tetap datang untuk mengagumi keindahannya, tanpa tahu bahwa di balik keindahan itu tersimpan sebuah tragedi, sebuah KUTUKAN yang abadi.

Cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama… BUKANKAH BEGITU?

You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Bimbingan

Pelukan yang Tak Pernah Dimaafkan Malam itu, salju turun perlahan, menutupi Kota Terlarang dengan selimut putih yang sunyi. Di paviliun te...

Pelukan Yang Tak Pernah Dimaafkan Pelukan Yang Tak Pernah Dimaafkan

Pelukan yang Tak Pernah Dimaafkan

Malam itu, salju turun perlahan, menutupi Kota Terlarang dengan selimut putih yang sunyi. Di paviliun terpencil, seorang wanita bernama Mei Lan duduk termenung, memainkan guqinnya. Nada-nada lirih mengalun, menyayat hati, bagai ratapan jiwa yang terluka. Sepuluh tahun telah berlalu sejak kejadian itu, namun bayang-bayang pengkhianatan masih menghantuinya.

Dulu, Mei Lan adalah selir kesayangan Kaisar. Cantiknya memukau, kecerdasannya mempesona. Kaisar sangat mencintainya, memberinya segala kemewahan dan kekuasaan. Namun, di balik senyum manis dan mata berbinar, tersimpan sebuah rahasia besar: Mei Lan tidak mencintai Kaisar. Hatinya telah lama dimiliki oleh seorang pria lain, Pangeran Rui, adik Kaisar yang pemberani dan berwibawa.

Suatu malam, di bawah rembulan pucat, Pangeran Rui mengakui cintanya pada Mei Lan. Mereka berjanji untuk bersama, meski tahu bahwa cinta mereka terlarang. Sebuah pelukan singkat, terlarang, namun penuh gairah, menjadi saksi bisu janji suci itu.

Namun, takdir berkata lain. Seorang kasim licik, yang menyimpan dendam pada Pangeran Rui, memergoki mereka. Fitnah keji disebarkan. Kaisar murka. Pangeran Rui dihukum buang, dikirim ke perbatasan untuk memimpin pasukan melawan barbar. Mei Lan, yang dituduh merayu Pangeran, memilih diam. Ia menolak membela diri, membiarkan dirinya dicap sebagai wanita jahat.

Mengapa? Karena ia tahu, jika ia membela diri dan mengungkap kebenaran, Pangeran Rui pasti akan dihukum mati. Ia rela menanggung semua rasa sakit, demi melindungi pria yang dicintainya. Diamnya adalah pengorbanan terbesarnya, pelukan yang tak pernah bisa dimaafkan oleh dirinya sendiri.

Bertahun-tahun berlalu. Mei Lan tetap menjadi selir Kaisar, namun hatinya telah mati. Ia hidup dalam istana mewah, namun jiwanya terpenjara. Setiap malam, ia memainkan guqinnya, meratapi cinta yang hilang dan pengkhianatan yang membekas.

Namun, ada sesuatu yang ganjil. Setiap kali Mei Lan memainkan lagu tertentu, lampu-lampu di istana akan berkedip-kedip. Dan setiap kali itu terjadi, seorang kasim tua akan terlihat gemetar ketakutan. Awalnya, Mei Lan tidak menyadarinya. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai curiga.

Ia mulai menyelidiki, dengan hati-hati dan penuh perhitungan. Akhirnya, ia menemukan sebuah buku catatan tersembunyi, berisi catatan harian kasim licik yang dulu memfitnahnya. Di sana, ia menemukan kebenaran yang MENGERIKAN: Kasim itu tidak hanya memfitnah mereka, tapi juga meracuni Kaisar secara perlahan!

Tujuannya? Untuk menggulingkan Kaisar dan menempatkan seorang pangeran boneka di atas tahta. Lalu, siapa dalang di balik semua ini? Sebuah nama tertera jelas di halaman terakhir: PERMAISURI. Istri sah Kaisar, wanita yang selama ini tampak lemah lembut dan baik hati, ternyata adalah dalang dari segala kejahatan.

Mei Lan tidak melakukan apa-apa. Ia hanya terus memainkan guqinnya, mengirimkan sinyal rahasia melalui lagu-lagunya. Suatu malam, Kaisar tiba-tiba jatuh sakit parah. Tabib istana tidak bisa menemukan penyebabnya. Namun, Kaisar, yang telah lama mencurigai Permaisuri, memerintahkan penjaga untuk menyelidiki kamarnya.

Di sana, mereka menemukan racun yang sama yang digunakan untuk meracuni Kaisar. Permaisuri ditangkap dan diadili. Kebenarannya terungkap. Permaisuri dihukum mati. Pangeran Rui, yang telah membuktikan kesetiaannya dengan memenangkan banyak pertempuran di perbatasan, dipanggil kembali ke istana.

Kaisar, yang sakit parah, menyadari kesalahannya. Ia memohon maaf pada Mei Lan dan Pangeran Rui. Ia bahkan menawarkan tahta pada Pangeran Rui. Namun, Pangeran Rui menolak. Ia memilih untuk hidup tenang di luar istana, jauh dari intrik dan kekuasaan.

Mei Lan akhirnya bebas. Ia meninggalkan istana dan bergabung dengan Pangeran Rui. Mereka hidup sederhana, namun bahagia. Namun, bayangan pelukan terlarang itu akan selalu menghantui mereka.

Di akhir hayatnya, Mei Lan, di pangkuan Pangeran Rui, berbisik lirih, "Aku… tidak pernah benar-benar… memaafkan diri sendiri..."

You Might Also Like: Elimina Ese Chupeton Al Instante Con

Hujan jatuh di atas makamnya, seperti air mata langit yang tak henti-hentinya meratapi kepergian. Sunyi. Begitu sunyi hingga detak jantung ...

Drama Populer: Air Mata Yang Menjadi Simbol Kekalahan Drama Populer: Air Mata Yang Menjadi Simbol Kekalahan

Hujan jatuh di atas makamnya, seperti air mata langit yang tak henti-hentinya meratapi kepergian. Sunyi. Begitu sunyi hingga detak jantung sendiri terasa begitu keras, begitu mengganggu. Bayangan pohon cemara menari-nari di batu nisan, seolah enggan melepaskan duka yang terpatri di sana. Di antara rintik hujan dan bisikan angin, sosoknya muncul. Bukan lagi tubuh hangat yang dulu kukenal, melainkan aura dingin, transparan, namun begitu familiar.

Namanya Lin Wei. Dulu, ia seorang pelukis dengan senyum secerah matahari musim semi. Sekarang, ia hanyalah bayangan yang mencari. Mencari apa? Itulah yang menjadi pertanyaan di hatiku, sahabatnya. Ia kembali, dari lorong gelap antara dunia hidup dan arwah, membawa rahasia yang belum terungkap.

Dulu, Lin Wei meninggal dalam kecelakaan. Sebuah tragedi yang menyisakan luka menganga di hati banyak orang. Namun, ada sesuatu yang tidak beres. Sesuatu yang tertinggal. Sesuatu yang membuatnya terjebak di antara dua dunia.

Malam demi malam, aku melihatnya. Berdiri di tepi danau yang dulu menjadi tempat favoritnya. Mengunjungi galeri seni, tempat lukisannya dulu dipajang dengan bangga. Menatap kosong lukisan terakhirnya, sebuah potret diri yang dipenuhi air mata. Air mata itulah yang menjadi simbol kekalahannya. Kekalahan dari apa?

Aku berusaha berkomunikasi dengannya. Membisikkan doa-doa dan harapan. Membakar dupa, berharap asapnya membawa pesanku ke alam baka. Namun, ia hanya diam. Tatapannya kosong, seolah jiwanya tersesat dalam labirin kenangan.

Hingga suatu malam, di bawah rembulan pucat, ia menunjuk sebuah amplop yang terselip di balik kanvas lukisannya. Sebuah surat. Ditulis dengan tinta hitam yang mulai pudar. Sebuah pengakuan dosa.

Ternyata, Lin Wei tidak meninggal karena kecelakaan biasa. Ia dibunuh. Dibunuh oleh seseorang yang iri dengan bakatnya, oleh seseorang yang diam-diam mencintainya, dan merasa ditolak. Surat itu adalah bukti. Surat itu adalah kebenaran yang selama ini ia pendam.

Hatiku hancur berkeping-keping. Marah. Dendam. Ingin rasanya membalas kematiannya. Namun, Lin Wei menggeleng. Ia mendekatiku, sentuhannya sedingin es, namun matanya memancarkan kedamaian.

"Bukan balas dendam yang kubutuhkan," bisiknya, suaranya seperti desiran angin di antara pepohonan. "Aku hanya ingin kebenaran terungkap. Aku hanya ingin DAMAI."

Kebenaran memang akhirnya terungkap. Pembunuhnya mengakui perbuatannya. Keadilan ditegakkan. Namun, yang paling penting, Lin Wei akhirnya menemukan kedamaian. Ia bisa pergi dengan tenang. Melepaskan diri dari ikatan duniawi yang selama ini mengikatnya.

Di malam terakhir, aku melihatnya berdiri di tepi danau. Tersenyum. Bukan senyum cerah yang dulu kukenal, melainkan senyum lembut, penuh syukur. Lalu, ia memudar. Perlahan. Menghilang.

Ia baru saja tersenyum untuk terakhir kalinya…

You Might Also Like: 5 Rahasia Mimpi Diserang Buaya Muara

Senyum yang Tak Sempat Kuterima Aula emas itu gemerlap, namun dingin . Di bawah sorot ratusan lilin, jubah sutra berwarna-warni para pejab...

SERU! Senyum Yang Tak Sempat Kuterima SERU! Senyum Yang Tak Sempat Kuterima

Senyum yang Tak Sempat Kuterima

Aula emas itu gemerlap, namun dingin. Di bawah sorot ratusan lilin, jubah sutra berwarna-warni para pejabat Kekaisaran berdesir seperti ombak lautan. Di setiap lipatan kain, di setiap gestur anggun, tersembunyi AMBISI dan pengkhianatan. Kaisar Li Wei, duduk di singgasana Naga, mengamati mereka dengan mata setajam elang. Di sisinya, berdiri Permaisuri Zhao Lian, anggun bagai bunga teratai di atas air yang tenang.

Namun, ketenangan itu hanyalah topeng.

Li Wei dan Zhao Lian. Terikat dalam pernikahan yang diatur, terikat oleh Kekuasaan. Awalnya, mereka hanyalah dua orang asing yang dipaksa berbagi ranjang dan mimpi. Lalu, benih cinta mulai tumbuh di antara intrik istana, di antara bisikan para kasim dan tatapan curiga para selir.

Li Wei, Kaisar yang tegas dan berwibawa, mulai melihat kelembutan di balik ketegaran Zhao Lian. Ia menyukai senyum tipis yang jarang diperlihatkan sang Permaisuri, senyum yang hanya ditujukan untuknya. Zhao Lian, di sisi lain, menemukan kejujuran dalam diri Li Wei, kejujuran yang tersembunyi di balik beban takhta. Mereka saling mencintai, namun cinta mereka adalah permainan takhta. Setiap janji adalah pedang. Setiap kata-kata adalah strategi.

"Lian'er," bisik Li Wei suatu malam, di taman istana yang diterangi rembulan. "Aku berjanji akan melindungimu."

Zhao Lian menatapnya, mata indahnya berkilat. "Janji Kaisar bernilai lebih dari emas. Tapi, janji juga bisa dipatahkan."

Waktu berlalu. Intrik istana semakin dalam. Fitnah dan konspirasi menjerat mereka berdua. Pangeran Rui, adik Kaisar yang haus kekuasaan, menyebarkan desas-desus bahwa Zhao Lian bersekongkol dengan faksi tertentu untuk menggulingkan Li Wei. Kaisar, yang dibutakan oleh kecurigaan dan hasutan, mulai meragukan Zhao Lian. Ia memerintahkan pengawal pribadinya untuk mengawasi gerak-gerik sang Permaisuri.

Zhao Lian, yang merasa dikhianati dan disakiti, memutuskan untuk mengambil tindakan. Ia tidak akan menjadi korban. Ia akan menjadi Pemenang. Ia mulai menyusun rencana balas dendam yang rumit, elegan, dan mematikan. Ia menggunakan kecerdasan dan keanggunannya untuk memanipulasi semua orang di sekitarnya, termasuk Pangeran Rui yang ambisius. Ia membisikkan janji kekuasaan dan janji cinta palsu ke telinganya, menjeratnya dalam jaring kebohongan.

Pada malam Festival Musim Gugur, ketika langit dipenuhi lampion berwarna-warni, Zhao Lian melaksanakan rencananya. Ia mengungkap pengkhianatan Pangeran Rui di hadapan seluruh istana. Pangeran Rui, yang terkejut dan marah, berusaha membunuh Li Wei, namun Zhao Lian menghalangi. Ia menikam Pangeran Rui dengan HAIK.

Saat Pangeran Rui terkapar di lantai, berlumuran darah, Zhao Lian menoleh kepada Li Wei. Di matanya, tidak ada cinta, tidak ada penyesalan. Hanya ada kebencian dan tekad.

"Senyum yang tak sempat kuterima darimu, Kaisar, akan menjadi kutukan bagi kerajaanmu," ucapnya dengan suara sedingin es.

Lalu, dengan anggun, ia menjatuhkan diri dari balkon, menghilang dalam kegelapan malam.

Istana terdiam. Kaisar Li Wei terpaku, menatap mayat Pangeran Rui dan bayangan Zhao Lian yang jatuh. Ia menyadari betapa besar kesalahannya. Ia telah kehilangan wanita yang dicintainya, ia telah menghancurkan kepercayaannya, dan ia telah memicu balas dendam yang akan mengubah sejarah Kekaisaran.


Kini, siapa yang akan menduduki singgasana, dan dengan darah siapa ia akan menodai takhta itu?

You Might Also Like: Distributor Skincare Bimbingan Bisnis

Bunga Sakura menari di udara, menyelimuti kota Shanghai dengan kelopaknya yang berwarna merah muda. Aroma manisnya menusuk hidung, membawa...

Dracin Seru: Kau Menulis Puisi Untukku, Tapi Setiap Baitnya Adalah Jebakan Dracin Seru: Kau Menulis Puisi Untukku, Tapi Setiap Baitnya Adalah Jebakan

Bunga Sakura menari di udara, menyelimuti kota Shanghai dengan kelopaknya yang berwarna merah muda. Aroma manisnya menusuk hidung, membawa serta kenangan yang terkubur dalam jiwa Lan Yue. Ia berdiri di Jembatan Wai Bai Du, menatap sungai Huangpu yang mengalir tenang, namun riuhnya seolah menyimpan rahasia berabad-abad.

Seratus tahun lalu, di tempat yang sama, ia adalah Lin Mei, seorang penyair muda dengan hati yang penuh cinta dan cita-cita. Ia mencintai seorang jenderal muda bernama Zhan Wei, pahlawan perang yang karismatik dan penuh janji. Zhan Wei menulis puisi untuknya, bait demi bait merangkai cinta abadi. Namun, bait-bait itu adalah jebakan, jaring yang dirajut untuk menjeratnya dalam konspirasi dan pengkhianatan.

Reinkarnasi membawa Lan Yue kembali, dengan ingatan samar tentang kehidupan lampaunya. Ia bertemu dengan Li Wei, seorang pengusaha muda yang sukses, tatapan matanya persis sama dengan Zhan Wei, hanya saja tanpa seragam perang dan debu perjuangan.

Pertemuan pertama mereka bagaikan _deja vu. Suaranya, meski asing, terdengar familiar. Ia merasakan tarikan yang kuat, sebuah ikatan takdir yang tak terhindarkan. Li Wei, dengan senyum memikatnya, mulai menulis puisi untuk Lan Yue.

"Rinduku padamu bagai sungai Huangpu, mengalir abadi, tak pernah surut," begitu salah satu baitnya.

Namun, Lan Yue melihat bayangan kelam di balik kata-kata indah itu. Setiap puisi terasa seperti potongan puzzle yang perlahan membentuk gambar masa lalu yang mengerikan. Ia mulai menggali, mencari jejak kebenaran yang tersembunyi di balik sejarah kelam keluarga Li Wei.

Semakin dalam ia mencari, semakin jelaslah kebenaran pahit itu. Zhan Wei telah mengkhianatinya, menjebaknya dalam rencana perebutan kekuasaan yang mengakibatkan kematian tragisnya. Puisi-puisi itu bukan ungkapan cinta, melainkan kode rahasia untuk berkomunikasi dengan para konspirator.

Dendam membara dalam hatinya, tetapi Lan Yue menolak untuk membiarkannya menguasai dirinya. Ia memilih jalan yang lebih menyakitkan: keheningan dan pengampunan.

Pada malam festival lampion, Lan Yue menghadiri jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh Li Wei. Di tengah keramaian, ia mendekati Li Wei dan memberikan sebuah kotak kecil.

"Ini untukmu, Li Wei," katanya dengan suara tenang.

Li Wei membuka kotak itu dan menemukan sebuah puisi. Puisi itu bukan berisi amarah atau caci maki, melainkan ungkapan kesedihan dan harapan.

"Seratus tahun berlalu, dosa masa lalu tetap menghantuimu. Tapi aku memilih untuk tidak membalas. Aku memilih untuk melepaskanmu dari belenggu masa lalu."

Kata-kata itu bagai pisau tajam yang menusuk jantung Li Wei. Ia terdiam, wajahnya pucat pasi. Ia menyadari bahwa Lan Yue telah mengetahui segalanya. Bukan hanya dosanya di masa lalu, tetapi juga beban yang harus ia pikul di kehidupan sekarang.

Lan Yue berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Li Wei dalam keheningan yang memilukan. Ia tidak ingin melihat kehancurannya, ia hanya ingin membebaskan dirinya dari rantai kebencian.

Di kejauhan, ia mendengar bisikan angin, "Lin Mei... jangan lupakan JANJI kita..."

You Might Also Like: 85 Perbedaan Moisturizer Untuk Kulit

Kau menyalakan lilin di altar, dan nyalanya membentuk wajahku. Malam itu terasa ABADI , berat dan sunyi seperti hukuman. Salju turun tanpa...

Seru Sih Ini! Kau Menyalakan Lilin Di Altar, Dan Nyalanya Membentuk Wajahku Seru Sih Ini! Kau Menyalakan Lilin Di Altar, Dan Nyalanya Membentuk Wajahku

Kau menyalakan lilin di altar, dan nyalanya membentuk wajahku.

Malam itu terasa ABADI, berat dan sunyi seperti hukuman. Salju turun tanpa ampun, mewarnai halaman kuil dengan warna kematian. Udara dingin menusuk tulang, tetapi hawa di dalam altar terasa jauh lebih membekukan. Dupa terbakar perlahan, asapnya menari membentuk pusaran rahasia di bawah temaram cahaya lilin.

Di tengah altar, berdiri Lin Mei. Gaun merahnya, dulu simbol cinta dan harapan, kini hanya noda darah di atas kanvas putih salju. Matanya, dulu berbinar penuh kasih, kini kosong dan gelap, menyimpan lautan air mata yang tak pernah tumpah. Di hadapannya, berlutut Zhao Wei, pria yang pernah menjadi dunianya.

"Kau menyalakan lilin di altar," bisik Lin Mei, suaranya serak dan penuh kepahitan. "Dan nyalanya… membentuk wajahku. Wajah yang kau khianati. Wajah yang kau hancurkan."

Zhao Wei mendongak. Wajahnya yang dulu tampan kini dipenuhi guratan penyesalan dan ketakutan. "Lin Mei… aku…"

"Diam!" Lin Mei mengangkat tangannya. "Jangan sebut namaku. Jangan kotori lidahmu dengan nama yang pernah kau puja, kemudian kau injak-injak dengan kejam."

Dulu, mereka adalah dua jiwa yang terikat oleh janji suci di bawah pohon persik yang bermekaran. Cinta mereka, seindah lukisan di atas sutra. Namun, rahasia lama seperti ular bersembunyi di balik keindahan itu, menunggu saat yang tepat untuk mematuk.

Rahasia tentang keluarga Zhao yang menghancurkan keluarga Lin. Rahasia tentang pengkhianatan dan pembunuhan yang menutupi sejarah mereka dengan darah.

Lin Mei menatap altar. Di atasnya, terpampang potret ayah dan ibunya, wajah mereka membeku dalam tatapan yang menghakimi. Air mata akhirnya mengalir di antara asap dupa, membasahi pipinya.

"Kau ingat janji kita di atas abu, Zhao Wei?" bisiknya. "Janji untuk saling mencintai… hingga akhir hayat."

Zhao Wei terisak. "Aku… aku menyesal. Aku bersumpah…"

"TERLAMBAT!" Lin Mei meraih belati perak yang tersembunyi di balik gaunnya. Cahaya lilin menari di atas bilah tajam itu, memantulkan amarah dan kesedihan yang mendalam.

Balas dendam itu hadir dengan tenang, tanpa teriakan, tanpa ratapan. Hanya suara belati yang membelah udara, dan hembusan napas terakhir seorang pria yang terlambat menyadari kesalahannya.

Lin Mei berdiri di atas genangan darah, wajahnya pucat namun tegar. Ia menatap salju yang terus turun, menutupi noda merah itu dengan lapisan putih yang dingin.

Ia telah menunaikan janjinya.

Ia telah memberikan balasan dari hati yang terlalu lama menunggu.

Dan di bawah langit malam yang membeku, ia tahu bahwa dirinya juga telah kehilangan jiwanya.

Udara di sekitar altar terasa begitu sunyi, seolah alam semesta menahan napasnya, menunggu...

You Might Also Like: How To Write Literary Analysis Of

Kau Memakai Cincin Dari Dia, Tapi Hatimu Masih Berdetak Untukku Hujan gerimis membasahi paviliun tua di Taman Teratai. Di sanalah, di bawa...

Cerita Populer: Kau Memakai Cincin Dari Dia, Tapi Hatimu Masih Berdetak Untukku Cerita Populer: Kau Memakai Cincin Dari Dia, Tapi Hatimu Masih Berdetak Untukku

Kau Memakai Cincin Dari Dia, Tapi Hatimu Masih Berdetak Untukku

Hujan gerimis membasahi paviliun tua di Taman Teratai. Di sanalah, di bawah payung kertas merah yang rapuh, aku melihatmu lagi, Lin. Senyummu masih sama, manis dan menipu, tetapi di jarimu melingkar sebuah cincin giok hijau – cincin yang seharusnya menjadi milikku.

"Lama tidak bertemu, Mei," sapamu. Suaramu seperti sutra, halus namun menyimpan racun.

"Cukup lama, Lin," balasku. "Atau haruskah aku memanggilmu Nyonya Zhang?"

Malam itu, bau teh pahit menguar di udara, bercampur dengan aroma bunga lotus yang membusuk. Kami adalah dua putri yang tumbuh bersama di bawah atap yang sama, berbagi mimpi dan rahasia di balik tembok istana. Dulu, kita bersumpah setia. Dulu, kita adalah saudara. Sekarang… hanya ada jurang bernama KEKHIANATAN.

Kau ingat, Lin? Bagaimana kita bermain di bawah pohon persik, berjanji untuk selalu saling melindungi? Bagaimana kita berdua jatuh cinta pada pangeran yang sama – Zhang Wei? Kau tahu aku mencintainya lebih dulu. Kau tahu HATIKU berdetak hanya untuknya.

Tapi kau… kau selalu lebih licik. Kau menggunakan pesonamu, kau merayu ibunya, dan akhirnya, kau yang berdiri di altar, mengenakan gaun pengantin merah yang seharusnya menjadi milikku.

"Kau terlalu naif, Mei," desismu, menyesap teh. "Cinta tidak cukup di istana ini. Kekuatan yang bicara."

"Dan kau memilih kekuatan," ujarku, menatap cincin di jarimu. Cincin itu berputar, memantulkan cahaya rembulan yang suram. "Cincin itu… Pangeran Zhang memberikannya padamu, kan?"

Kau terdiam. Aku tahu aku menyentuh luka yang dalam. Karena cincin itu bukan sekadar perhiasan, Lin. Cincin itu adalah janji. Janji yang diukir dengan darah, janji untuk selamanya.

Bertahun-tahun aku menunggu. Bertahun-tahun aku merencanakan. Aku menggali masa lalu, menemukan benang-benang gelap yang menghubungkan keluarga Zhang dengan kematian ayahku. Aku menemukan KEBENARAN yang kau sembunyikan rapat-rapat.

"Kau tahu, Lin," aku melanjutkan, suara ku tenang namun mematikan. "Ayahku… dia tahu rahasia Zhang, rahasia yang bisa menghancurkan seluruh dinasti."

Matamu melebar. Ketakutan akhirnya terlihat.

"Kau…"

"Ya, Lin. Kau tahu apa yang harus kulakukan. Demi ayahku. Demi diriku sendiri. Demi cinta yang kau curi dariku."

Aku mengeluarkan belati perak dari balik lengan bajuku. Cahaya bulan menari di bilahnya yang tajam. Ini adalah malam PENEBUSAN.

Kau mencoba melarikan diri, tetapi aku terlalu cepat. Aku meraih tanganmu, menarikmu mendekat. Cincin giok itu memotong telapak tanganku saat aku mencengkeramnya.

"Kau tidak bisa lari dari takdirmu, Lin," bisikku di telingamu.

Aku menusuk.

Kau terhuyung, mencengkeram dadamu. Darah merah mengalir di gaun putihmu. Matamu bertemu dengan mataku. Ada kesedihan di sana, penyesalan… dan sedikit rasa bersalah.

"Aku…" batukmu tersengal-sengal. "Aku tidak menyesal…"

Kau jatuh ke tanah, di bawah payung kertas merah yang sekarang ternoda darah.

Aku berdiri di atasmu, belati di tanganku. Hujan mulai turun lebih deras, membersihkan darah dari paviliun.

Kebenaran terungkap. Aku, Mei, putri yang diabaikan, adalah pewaris sejati tahta. Keluarga Zhang membunuh ayahku untuk merebutnya, dan kau, Lin, adalah bidak dalam permainan mereka.

Tapi sekarang… permainan telah selesai.

Aku berbalik, meninggalkan tubuhmu di tengah hujan.

"Aku mencintainya… lebih dari yang kau bayangkan…," bisikku, sebelum kegelapan menelanku.

You Might Also Like: Skincare Lokal Untuk Kulit Tropis Beli