Bunga Sakura menari di udara, menyelimuti kota Shanghai dengan kelopaknya yang berwarna merah muda. Aroma manisnya menusuk hidung, membawa...

Dracin Seru: Kau Menulis Puisi Untukku, Tapi Setiap Baitnya Adalah Jebakan Dracin Seru: Kau Menulis Puisi Untukku, Tapi Setiap Baitnya Adalah Jebakan

Dracin Seru: Kau Menulis Puisi Untukku, Tapi Setiap Baitnya Adalah Jebakan

Dracin Seru: Kau Menulis Puisi Untukku, Tapi Setiap Baitnya Adalah Jebakan

Bunga Sakura menari di udara, menyelimuti kota Shanghai dengan kelopaknya yang berwarna merah muda. Aroma manisnya menusuk hidung, membawa serta kenangan yang terkubur dalam jiwa Lan Yue. Ia berdiri di Jembatan Wai Bai Du, menatap sungai Huangpu yang mengalir tenang, namun riuhnya seolah menyimpan rahasia berabad-abad.

Seratus tahun lalu, di tempat yang sama, ia adalah Lin Mei, seorang penyair muda dengan hati yang penuh cinta dan cita-cita. Ia mencintai seorang jenderal muda bernama Zhan Wei, pahlawan perang yang karismatik dan penuh janji. Zhan Wei menulis puisi untuknya, bait demi bait merangkai cinta abadi. Namun, bait-bait itu adalah jebakan, jaring yang dirajut untuk menjeratnya dalam konspirasi dan pengkhianatan.

Reinkarnasi membawa Lan Yue kembali, dengan ingatan samar tentang kehidupan lampaunya. Ia bertemu dengan Li Wei, seorang pengusaha muda yang sukses, tatapan matanya persis sama dengan Zhan Wei, hanya saja tanpa seragam perang dan debu perjuangan.

Pertemuan pertama mereka bagaikan _deja vu. Suaranya, meski asing, terdengar familiar. Ia merasakan tarikan yang kuat, sebuah ikatan takdir yang tak terhindarkan. Li Wei, dengan senyum memikatnya, mulai menulis puisi untuk Lan Yue.

"Rinduku padamu bagai sungai Huangpu, mengalir abadi, tak pernah surut," begitu salah satu baitnya.

Namun, Lan Yue melihat bayangan kelam di balik kata-kata indah itu. Setiap puisi terasa seperti potongan puzzle yang perlahan membentuk gambar masa lalu yang mengerikan. Ia mulai menggali, mencari jejak kebenaran yang tersembunyi di balik sejarah kelam keluarga Li Wei.

Semakin dalam ia mencari, semakin jelaslah kebenaran pahit itu. Zhan Wei telah mengkhianatinya, menjebaknya dalam rencana perebutan kekuasaan yang mengakibatkan kematian tragisnya. Puisi-puisi itu bukan ungkapan cinta, melainkan kode rahasia untuk berkomunikasi dengan para konspirator.

Dendam membara dalam hatinya, tetapi Lan Yue menolak untuk membiarkannya menguasai dirinya. Ia memilih jalan yang lebih menyakitkan: keheningan dan pengampunan.

Pada malam festival lampion, Lan Yue menghadiri jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh Li Wei. Di tengah keramaian, ia mendekati Li Wei dan memberikan sebuah kotak kecil.

"Ini untukmu, Li Wei," katanya dengan suara tenang.

Li Wei membuka kotak itu dan menemukan sebuah puisi. Puisi itu bukan berisi amarah atau caci maki, melainkan ungkapan kesedihan dan harapan.

"Seratus tahun berlalu, dosa masa lalu tetap menghantuimu. Tapi aku memilih untuk tidak membalas. Aku memilih untuk melepaskanmu dari belenggu masa lalu."

Kata-kata itu bagai pisau tajam yang menusuk jantung Li Wei. Ia terdiam, wajahnya pucat pasi. Ia menyadari bahwa Lan Yue telah mengetahui segalanya. Bukan hanya dosanya di masa lalu, tetapi juga beban yang harus ia pikul di kehidupan sekarang.

Lan Yue berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Li Wei dalam keheningan yang memilukan. Ia tidak ingin melihat kehancurannya, ia hanya ingin membebaskan dirinya dari rantai kebencian.

Di kejauhan, ia mendengar bisikan angin, "Lin Mei... jangan lupakan JANJI kita..."

You Might Also Like: 85 Perbedaan Moisturizer Untuk Kulit

0 Comments: