Hujan jatuh di atas makamnya, seperti air mata langit yang tak henti-hentinya meratapi kepergian. Sunyi. Begitu sunyi hingga detak jantung ...

Drama Populer: Air Mata Yang Menjadi Simbol Kekalahan Drama Populer: Air Mata Yang Menjadi Simbol Kekalahan

Drama Populer: Air Mata Yang Menjadi Simbol Kekalahan

Drama Populer: Air Mata Yang Menjadi Simbol Kekalahan

Hujan jatuh di atas makamnya, seperti air mata langit yang tak henti-hentinya meratapi kepergian. Sunyi. Begitu sunyi hingga detak jantung sendiri terasa begitu keras, begitu mengganggu. Bayangan pohon cemara menari-nari di batu nisan, seolah enggan melepaskan duka yang terpatri di sana. Di antara rintik hujan dan bisikan angin, sosoknya muncul. Bukan lagi tubuh hangat yang dulu kukenal, melainkan aura dingin, transparan, namun begitu familiar.

Namanya Lin Wei. Dulu, ia seorang pelukis dengan senyum secerah matahari musim semi. Sekarang, ia hanyalah bayangan yang mencari. Mencari apa? Itulah yang menjadi pertanyaan di hatiku, sahabatnya. Ia kembali, dari lorong gelap antara dunia hidup dan arwah, membawa rahasia yang belum terungkap.

Dulu, Lin Wei meninggal dalam kecelakaan. Sebuah tragedi yang menyisakan luka menganga di hati banyak orang. Namun, ada sesuatu yang tidak beres. Sesuatu yang tertinggal. Sesuatu yang membuatnya terjebak di antara dua dunia.

Malam demi malam, aku melihatnya. Berdiri di tepi danau yang dulu menjadi tempat favoritnya. Mengunjungi galeri seni, tempat lukisannya dulu dipajang dengan bangga. Menatap kosong lukisan terakhirnya, sebuah potret diri yang dipenuhi air mata. Air mata itulah yang menjadi simbol kekalahannya. Kekalahan dari apa?

Aku berusaha berkomunikasi dengannya. Membisikkan doa-doa dan harapan. Membakar dupa, berharap asapnya membawa pesanku ke alam baka. Namun, ia hanya diam. Tatapannya kosong, seolah jiwanya tersesat dalam labirin kenangan.

Hingga suatu malam, di bawah rembulan pucat, ia menunjuk sebuah amplop yang terselip di balik kanvas lukisannya. Sebuah surat. Ditulis dengan tinta hitam yang mulai pudar. Sebuah pengakuan dosa.

Ternyata, Lin Wei tidak meninggal karena kecelakaan biasa. Ia dibunuh. Dibunuh oleh seseorang yang iri dengan bakatnya, oleh seseorang yang diam-diam mencintainya, dan merasa ditolak. Surat itu adalah bukti. Surat itu adalah kebenaran yang selama ini ia pendam.

Hatiku hancur berkeping-keping. Marah. Dendam. Ingin rasanya membalas kematiannya. Namun, Lin Wei menggeleng. Ia mendekatiku, sentuhannya sedingin es, namun matanya memancarkan kedamaian.

"Bukan balas dendam yang kubutuhkan," bisiknya, suaranya seperti desiran angin di antara pepohonan. "Aku hanya ingin kebenaran terungkap. Aku hanya ingin DAMAI."

Kebenaran memang akhirnya terungkap. Pembunuhnya mengakui perbuatannya. Keadilan ditegakkan. Namun, yang paling penting, Lin Wei akhirnya menemukan kedamaian. Ia bisa pergi dengan tenang. Melepaskan diri dari ikatan duniawi yang selama ini mengikatnya.

Di malam terakhir, aku melihatnya berdiri di tepi danau. Tersenyum. Bukan senyum cerah yang dulu kukenal, melainkan senyum lembut, penuh syukur. Lalu, ia memudar. Perlahan. Menghilang.

Ia baru saja tersenyum untuk terakhir kalinya…

You Might Also Like: 5 Rahasia Mimpi Diserang Buaya Muara

0 Comments: