Baiklah, ini dia, kisah Dracin tragis berjudul 'Cinta yang Mengganti Nama Keluarga': **Cinta yang Mengganti Nama Keluarga** Angin musim gugur berbisik di antara dedaunan maple yang merah membara, sama merahnya dengan dendam yang membara di hati Lan Yue. Dulu, hanya ada kehangatan mentari di antara dia dan Bai Feng. Mereka tumbuh bersama di lereng gunung yang sama, Lan Yue yang ceria dan Bai Feng yang pendiam. Saudara seperguruan, sahabat, *lebih* dari sekadar teman. "Yue'er," bisik Bai Feng suatu senja, di bawah langit yang dihiasi ribuan bintang, "Kau adalah rembulan bagiku. Tanpamu, aku hanyalah kegelapan." Lan Yue tertawa, suaranya secerah lonceng perak. "Feng'er, kau adalah pedangku. Tanpamu, aku tak punya kekuatan." Kekuatan. Ya, itulah yang dicari Bai Feng. Kekuatan untuk melindungi Klan Bai dari bahaya yang mengintai. Tapi, bahaya itu bersembunyi di dalam darah mereka sendiri. Sebuah rahasia yang terukir dalam sejarah kelam klan mereka. Bertahun-tahun berlalu. Lan Yue menjadi pendekar wanita yang disegani, pedangnya menari-nari di medan perang, membela kebenaran. Bai Feng, dengan kecerdasannya yang tajam, menjadi penasihat utama, membimbing klan menuju kemakmuran. Namun, di balik senyum lembutnya, Bai Feng menyimpan rahasia yang perlahan menggerogoti hatinya. Suatu malam, di bawah *rembulan berdarah*, Bai Feng memanggil Lan Yue. "Yue'er, ada sesuatu yang harus kukatakan," ucapnya, matanya menghindari tatapan Lan Yue. "Katakanlah, Feng'er. Kita tak pernah menyimpan rahasia, bukan?" jawab Lan Yue, meskipun firasat buruk sudah menggerogoti benaknya. "Nama keluargamu... Lan... itu *bukan* nama keluargamu yang sebenarnya." Lidah Lan Yue kelu. "Apa maksudmu?" Bai Feng menarik napas dalam-dalam. "Klan Lan… mereka menghancurkan klan kita, Klan Bai, berabad-abad lalu. Kau… kau adalah keturunan langsung pembantai keluarga kita." Dunia Lan Yue runtuh. Kebencian, pengkhianatan, dan cinta bercampur menjadi satu badai dahsyat di dalam dirinya. "Kau… kau tahu selama ini?" Bai Feng mengangguk. "Aku terikat sumpah untuk membalaskan dendam Klan Bai." *Pisau* kata-kata itu menusuk jantung Lan Yue. "Jadi… semua ini… persahabatan kita… cinta kita… hanyalah kebohongan?" Bai Feng terdiam. *Itulah kebohongannya yang TERBESAR.* Kemudian, dengan kecepatan kilat, Lan Yue mencabut pedangnya. "Kalau begitu, balas dendamlah, Bai Feng! Aku tak akan lari dari takdirku!" Pertarungan mereka adalah tarian maut di bawah rembulan berdarah. Cinta, benci, dan pengkhianatan berbaur dalam setiap gerakan. Pedang Lan Yue mencerminkan kesedihan dan kemarahan, sementara pedang Bai Feng berayun dengan tekad yang dingin. Akhirnya, pedang Bai Feng menembus jantung Lan Yue. "Kenapa... Feng'er? Kenapa kau melakukan ini?" tanya Lan Yue, darah membasahi dadanya. Bai Feng berlutut di sampingnya, air mata mengalir di pipinya. "Aku… aku harus… demi klanku..." Lan Yue tersenyum pahit. "Klanmu… tidak akan pernah tahu… bahwa *aku* yang menyelamatkan mereka… dari perang… beberapa tahun lalu…" Dengan sisa-sisa kekuatannya, Lan Yue mencengkeram jubah Bai Feng. "Dan bahwa... namamu, Feng'er... sebenarnya..." *** ... Lan Yue.
You Might Also Like: 8 10 Easy Activities To Improve Manual
0 Comments: