Janji yang Kupersembahkan Pada Angin
Rinai musim semi membasahi pipiku. Aroma bunga plum menyeruak, membangkitkan kenangan samar. Aku, Lin Mei, seorang mahasiswi biasa di abad ke-21, selalu merasa ada yang hilang, sebuah fragmen masa lalu yang kabur namun menyakitkan.
Di dalam mimpiku, aku adalah Putri Yue, pewaris tahta Kerajaan Bulan. Aku mengenakan hanfu sutra berwarna bulan purnama, menari di bawah cahaya rembulan bersama kekasihku, Jenderal Zhao. Namun, mimpi itu selalu berakhir dengan darah, pengkhianatan, dan tatapan dingin Jenderal Zhao saat menikamku.
Setiap kali aku melihat pantulan diriku di cermin, aku melihat bukan hanya Lin Mei, tetapi juga Putri Yue yang terluka. Aku mulai menggambar, menciptakan lukisan istana kerajaan yang familiar, meskipun aku belum pernah melihatnya secara langsung. Lukisanku dipenuhi bunga plum dan rembulan, namun di sudutnya selalu ada bayangan pedang berlumuran darah.
Suatu hari, aku bertemu dengannya. Zhao Wei, seorang pengusaha sukses dengan tatapan mata yang identik dengan Jenderal Zhao dalam mimpiku. Jantungku berdebar kencang, bukan karena cinta, tetapi karena insting yang berteriak.
Awalnya, aku mencoba menjauh. Namun, takdir—atau mungkin karma—terus mempertemukan kami. Dia tertarik dengan lukisanku, merasa ada sesuatu yang mendalam yang tak bisa dijelaskan. Dia mulai bercerita tentang perusahaannya, tentang ambisinya untuk membangun kerajaan bisnis yang tak tertandingi.
Di sinilah kesempatanku datang.
Dengan hati-hati, aku menjadi bagian dari lingkarannya. Aku menawarkan saran, mengamati strateginya, dan secara halus mengarahkannya ke keputusan yang, aku tahu, akan membawa kehancuran baginya. Aku tidak ingin membunuhnya, tidak secara fisik. Aku ingin menghancurkan kerajaan yang dia bangun, sama seperti dia menghancurkan kerajaanku.
Perlahan, satu per satu, usahanya mulai runtuh. Skandal terungkap, investasi gagal, dan orang-orang kepercayaannya berbalik melawannya. Aku menyaksikan kehancurannya dengan tatapan dingin, merasakan kepuasan pahit.
Pada akhirnya, dia berdiri di hadapanku, tatapannya kosong dan putus asa. "Mengapa?" tanyanya, suaranya bergetar. "Mengapa kau melakukan ini padaku?"
Aku tersenyum tipis. "Dulu kau bertanya padaku hal yang sama, Jenderal Zhao," bisikku. "Kau menghancurkan kerajaanku. Sekarang, giliranmu."
Aku berbalik, meninggalkan dia dalam reruntuhan mimpinya. Aku tidak merasakan kemenangan, hanya kelelahan. Aku telah membalas dendam, tapi hatiku tetap hampa.
Di bawah rembulan yang bersinar redup, aku berdiri di tepi danau, memandangi pantulan wajahku. Aku bukan lagi Putri Yue, bukan juga Lin Mei. Aku adalah hantu masa lalu, terikat oleh janji yang harus ditepati.
Mungkin, di kehidupan selanjutnya, kita akan bertemu lagi… dan mungkin, aku akan mengingatmu.
You Might Also Like: Jualan Skincare Penghasilan Tambahan
0 Comments: