Tentu, ini dia kisah pendek ala dracin dengan sentuhan yang Anda inginkan: **Kau Mencium Tanganku, Tapi Dinginnya Tak Pernah Hilang** Lampu-lampu kristal di Ballroom Grand Astoria berpendar, memantulkan gaun sutra *ivory* yang membalut tubuh Anya. Ia tersenyum, senyum yang selama ini menjadi topengnya, senyum yang menipu dunia, termasuk dirinya sendiri. Malam ini adalah perayaan *sepuluh tahun* kesuksesan perusahaan yang dibangunnya dari nol, dan juga... malam pengkhianatan itu terungkap. Dulu, tangannya ini pernah digenggam erat oleh Revan, suaminya. Dulu, ciuman Revan terasa hangat, menenangkan. Tapi sekarang? Sentuhan itu terasa seperti es, ***membekukan*** setiap harapan yang tersisa. Dinginnya meresap ke tulang sumsum, mengingatkannya pada janji-janji yang kini menjelma belati, menusuk jantungnya tanpa ampun. "Anya, kau tampak anggun malam ini," bisik Revan, suaranya seperti melodi yang beracun. Anya tahu, bibir itu telah mengucapkan janji yang sama pada wanita lain, wanita yang berdiri tak jauh darinya, tersenyum penuh kemenangan. Pelukan Revan terasa hampa. Dulu, pelukan itu adalah rumah. Sekarang, pelukan itu adalah penjara berlapis emas, mengurungnya dalam kepalsuan dan kepedihan. Ia mengingat kata-kata Revan saat melamarnya, "Anya, bersamamu, aku akan membangun istana cinta yang abadi." Istana itu kini runtuh, hanya menyisakan puing-puing kenangan dan dendam yang membara. Anya menenggak sampanye, membiarkan cairan itu membakar tenggorokannya. Rasa pahitnya tak sebanding dengan kepahitan yang ia rasakan di hatinya. Ia telah melihat semuanya: pesan-pesan mesra, pertemuan rahasia, bahkan cincin yang sama persis dengan miliknya, melingkar di jari wanita itu. *Pengkhianatan yang sempurna*. Malam itu, Anya tampil sebagai ratu yang terluka namun tetap berkuasa. Ia berpidato dengan suara lantang, memamerkan kesuksesan yang diraihnya seorang diri. Ia mengucapkan terima kasih pada Revan, "Atas pelajaran berharga tentang arti cinta dan pengkhianatan." Kata-kata itu bagai *tamparan keras* bagi Revan, yang wajahnya memucat di antara kerumunan. Balas dendam Anya bukan berupa pertumpahan darah. Ia tahu, kehancuran Revan akan lebih terasa menyakitkan jika ia merebut semua yang dimiliki pria itu, tanpa setetes air mata. Ia akan memastikan perusahaan yang dibangun Revan dengan susah payah akan jatuh ke tangannya. Ia akan membuat Revan menyesal seumur hidup, bukan karena kehilangan uang, tetapi karena kehilangan dirinya. Malam itu, di bawah taburan bintang-bintang palsu di langit-langit Ballroom, Anya melepaskan senyumnya. Senyum kemenangan yang dingin, se-dingin ciuman Revan. Ia melangkah pergi, meninggalkan Revan dan wanita itu dalam kebingungan dan ketakutan. Di mobil, Anya menatap pantulan dirinya di jendela. Bayangan seorang wanita kuat, namun rapuh. Ia tahu, luka ini akan membekas selamanya. ***Cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama, dan terkadang, garis di antara keduanya begitu tipis hingga kau tak bisa membedakannya.***
You Might Also Like: Mimpi Dikejar Penyu Ternyata Ini
0 Comments: