Hujan menggigil membasahi atap Istana Terlarang, menetes lirih seperti air mata langit. Selama bertahun-tahun, suara itu selalu menemani pe...

Kisah Seru: Kaisar Itu Jatuh, Tapi Cintanya Tetap Menjerat Dunia. Kisah Seru: Kaisar Itu Jatuh, Tapi Cintanya Tetap Menjerat Dunia.

Kisah Seru: Kaisar Itu Jatuh, Tapi Cintanya Tetap Menjerat Dunia.

Kisah Seru: Kaisar Itu Jatuh, Tapi Cintanya Tetap Menjerat Dunia.

Hujan menggigil membasahi atap Istana Terlarang, menetes lirih seperti air mata langit. Selama bertahun-tahun, suara itu selalu menemani perenungan Xiao Yu, wanita yang dulunya adalah Permaisuri Agung, kini hanya tinggal bayangan dari masa kejayaannya. Kaisar Li Wei, pria yang *dulu* sangat dicintainya, telah jatuh. Bukan karena penyakit atau konspirasi, melainkan karena pengkhianatan. Pengkhianatan yang dilancarkan olehnya, Xiao Yu. Bayangan lentera yang nyaris padam menari-nari di dinding kamarnya, memantulkan wajahnya yang pucat dan menyimpan ribuan rahasia. Setiap kilatan cahaya, ia melihat wajah Li Wei, wajah yang dulu dipenuhi senyum hangat, kini membeku dalam keterkejutan dan kekecewaan. "Xiao Yu…" bisiknya, suara serak yang lebih sering berbicara pada bayangan daripada manusia. "Mengapa?" Pertanyaan itu selalu menggantung di udara, tak terjawab. Ia melihat ke tangannya, tangan yang dulu digenggam erat oleh Li Wei, kini berlumuran dosa. Dosa pengkhianatan, dosa kebohongan, dosa merencanakan kejatuhannya. Dulu, mereka saling mencintai. Cinta mereka seindah bunga persik di musim semi, semegah matahari di musim panas, sehangat perapian di musim dingin. Namun, badai masa lalu menghancurkan segalanya. Dendam menggerogoti hatinya, dendam atas kematian keluarganya, dendam atas kehancuran negerinya. Li Wei, yang kala itu masih seorang pangeran, adalah bagian dari itu semua. Atau setidaknya, *itu* yang diyakininya. Selama bertahun-tahun, Xiao Yu menyembunyikan kebenciannya di balik senyum manis dan kesetiaan yang dipuja. Ia naik ke tampuk kekuasaan sebagai permaisuri, mengumpulkan informasi, merencanakan strategi, hingga akhirnya, saatnya tiba. Ia menjatuhkan Li Wei dengan tangan sendiri, memastikan setiap langkahnya dipenuhi rasa sakit yang sama seperti yang dirasakannya. Namun, setiap tetes air mata yang jatuh, setiap kilatan rasa sakit di mata Li Wei, justru semakin menggorogoti hatinya. Ia menyadari, dendam tidak membawa kedamaian, hanya kehampaan. Bayangan masa lalu semakin menekan, menghantuinya di setiap sudut Istana. Suatu malam, saat hujan semakin deras, seorang kasim tua memberanikan diri masuk ke kamarnya. Ia membawa sebuah kotak kayu kecil, dihiasi ukiran bunga persik yang familiar. "Yang Mulia," kata kasim itu dengan suara gemetar, "Kaisar Li Wei… sebelum wafat, beliau menitipkan ini untuk Anda." Dengan tangan gemetar, Xiao Yu membuka kotak itu. Di dalamnya, terdapat sebuah lukisan usang. Lukisan seorang gadis kecil yang duduk di bawah pohon persik, tertawa riang. Di belakang lukisan itu, tertulis sebuah kalimat dengan tinta yang hampir pudar: _"Ternyata selama ini, aku telah melindungi orang yang justru mengkhianatiku, karena... orang yang membunuh keluargamu bukanlah aku, melainkan… **ayahku sendiri.**"_
You Might Also Like: Supplier Kosmetik Tangan Pertama Modal

0 Comments: