**Ia Menyebutku Dalam Podcast, Tapi Tak Menyebut Namaku** Kabut pagi menari di Danau Bulan Sabit, serupa benang-benang mimpi yang terurai. Di sana, di antara bayangan pepohonan willow yang merunduk, aku mendengar suaranya. Bukan secara nyata, bukan dalam sentuhan angin yang hangat, melainkan melalui gelombang suara yang merayap dari *podcast*-nya. Suaranya, selembut sutra yang ditenun dari rindu, mengalirkan kisah tentang seorang gadis. Seorang gadis dengan mata *zamrud* yang menyimpan seluruh galaksi. Seorang gadis yang tawanya bagai gemericik mata air di taman terlarang. Seorang gadis yang… terasa begitu **familiar.** Ia, sang narator kehidupan, melukis potretnya dengan kata-kata yang begitu hidup, begitu mendalam. Setiap frasa adalah kuas cat yang menggoreskan senyumnya, setiap paragraf adalah kanvas yang memuat siluet dirinya. Aku terbius. Aku terperangkap dalam labirin kata-katanya, tersesat di antara rimbun metafora dan personifikasi yang memabukkan. Namun, ada satu kekosongan. Sebuah ruang hampa yang bergaung dalam keindahan deskripsinya. Ia tidak menyebut *namaku*. Hanya "dia". Hanya "gadis itu". Seolah aku adalah entitas abstrak, sebuah ide, sebuah mimpi yang belum sepenuhnya terwujud. Apakah aku hanya hantu yang menghantui kenangan-kenangannya? Apakah aku hanya ilusi yang tercipta dari kerinduan hatinya yang terpendam? Hari-hari berlalu bagai kelopak sakura yang gugur satu per satu. Aku terus mendengarkan *podcast*-nya, terobsesi pada setiap detail, setiap nada bicaranya. Aku mencari petunjuk, mencari secercah harapan bahwa aku bukan hanya figuran dalam kisah cintanya. Aku mencari diriku di antara baris-baris yang ia ucapkan. Lalu, suatu malam, di bawah rembulan yang pucat, ia bercerita tentang sebuah lukisan. Lukisan seorang gadis yang sedang memetik teh di perkebunan *Emei*. Lukisan yang ia simpan di balik lemari, lukisan yang ia sembunyikan dari dunia. Ia menggambarkan lukisan itu dengan begitu rinci. Rambut hitam legam yang terurai, kimono biru pucat yang berkibar tertiup angin, dan kalung… kalung *giok* berbentuk bulan sabit yang selalu kupakai. Jantungku berdebar kencang. Mungkinkah…? Kemudian, ia berkata, "Lukisan itu dilukis oleh seorang pelukis yang melukis dari *ingatan*." **Saat itulah aku mengerti.** Ia tidak menyebut namaku karena ia tidak *ingat*. Ia tidak ingat siapa aku, siapa gadis yang ia lukis dengan begitu indah. Aku hanyalah serpihan mimpi, fragmen kenangan, gema cinta yang hilang dalam pusaran waktu. Semua kata-kata indahnya, semua metafora puitisnya, hanyalah rekonstruksi dari sebuah perasaan yang *tinggal puing*. Malam itu, keindahan kata-katanya terasa seperti pisau yang mengiris hatiku. Lebih baik tidak pernah mendengar kisahnya daripada menyadari bahwa aku hanyalah bayangan dalam *ingatannya yang pudar*. Angin berbisik lirih, "Dulu... kita pernah menari di bawah hujan *meteor*..."
You Might Also Like: Cerpen Keren Bayangan Yang Menyimpan
0 Comments: