Baiklah, ini dia kisah dracin pendek berjudul 'Aku Berdiri di Antara Dua Pasukan, Tapi Hanya Namamu yang Kupilih': **Aku Berdiri di Antara Dua Pasukan, Tapi Hanya Namamu yang Kupilih** Kabut cendana mengepul di sekitar kuil kuno. Di sinilah, di puncak Gunung Tai Shan, aku, Lin Wei, berdiri. Di bawahku, dua barisan pasukan saling berhadapan, siap menghancurkan satu sama lain. Di sisi kiri, panji-panji Dinasti Jin berkibar gagah. Di sisi kanan, bendera pemberontak berkibar penuh amarah. Aku, seorang tabib, berdiri di tengahnya, membawa ramuan obat dan sedikit _**kenangan**_. Dunia ini asing namun terasa familiar. Aku bukan Lin Wei yang seharusnya. Aku adalah Li Hua, jenderal wanita yang mati *dikhianati* seribu tahun lalu. Di antara prajurit Dinasti Jin, kulihat dia. Zhao Jun, pangeran mahkota. Wajahnya... nyaris sama dengan wajah pengkhianat itu. Kaisar Zhao Qian, kekasihku, yang menikamku dari belakang demi tahta. Setiap malam, mimpi-mimpi itu datang. Kilasan pedang, aroma darah, dan wajah Zhao Qian yang *Tersenyum* saat aku jatuh. Tapi, tunggu. Di barisan pemberontak, seorang pemuda menatapku. Matanya... matanya teduh dan penuh kesedihan yang sama. Jantungku berdebar. Ini... tidak mungkin. "Yang Mulia?" Bisikku, hampir tak terdengar. Pemuda itu tersentak. Ia menggeleng pelan, namun matanya tidak berbohong. Dia adalah Zhao Qian, atau setidaknya, reinkarnasinya. Namun, berbeda dengan ingatanku tentang pengkhianat itu, pemuda ini memancarkan *KESUCIAN*. Kebingungan menyelimutiku. Mungkinkah ingatanku salah? Mungkinkah ada orang lain yang menjebak Zhao Qian? Seiring waktu berjalan, aku mengamati Zhao Jun dan pemuda Zhao Qian. Zhao Jun, dengan segala kekuasaannya, terlihat dingin dan kalkulatif. Sementara Zhao Qian, pemimpin pemberontak yang tulus, berjuang demi rakyatnya. Ingatan demi ingatan bermunculan. Bukan Zhao Qian yang menikamku. Melainkan Zhao Jun, saudara tirinya, yang selama ini mendambakan tahta dan cintaku. Zhao Jun, yang memfitnah Zhao Qian di depan mataku, memanfaatkan cintaku untuk menghancurkannya. *KEBENARAN* terungkap bagai lukisan yang disiram air jernih. Pasukan mulai menyerang. Pedang beradu, teriakan menggema. Zhao Jun memerintah dengan kejam, membantai siapa saja yang menghalangi jalannya. Zhao Qian berjuang mati-matian, melindungi rakyatnya. Aku, Lin Wei, berdiri di tengahnya. Aku bisa saja menyelamatkan Zhao Jun, membiarkannya berkuasa dan membalas dendam atas kematianku. Tapi, *itu bukan aku*. Aku berjalan menuju Zhao Qian, memberikan ramuan penyembuh luka. Pandangannya bertemu pandanganku, penuh tanya. "Jangan khawatir," bisikku. "Aku tahu kebenaran." Kemudian, dengan lantang, aku berteriak. "BERHENTI! Dinasti Jin telah kehilangan mandat surga! Mereka membawa kesengsaraan! Bergabunglah dengan pasukan keadilan!" Kata-kataku membungkam medan perang. Banyak prajurit Dinasti Jin yang ragu. Mereka telah melihat sendiri kekejaman Zhao Jun. Perlahan, beberapa dari mereka meletakkan senjata mereka dan bergabung dengan pemberontak. Zhao Jun meraung marah, tapi sudah terlambat. Kekuatan berpihak pada Zhao Qian. Dinasti Jin tumbang. Zhao Qian menjadi kaisar, membawa kedamaian dan kemakmuran. Aku, Lin Wei, memilih untuk menghilang, membawa serta rahasia kehidupan lampau. Balas dendamku bukan dengan membunuh, melainkan dengan memilih. Memilih kebenaran, memilih keadilan, memilih Zhao Qian yang *sejati*. Di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran, aku menatap istana dari kejauhan. Aku tahu, takdir kita akan bersinggungan lagi, dan ketika itu tiba... _aku akan berdiri di sisimu, seperti yang seharusnya terjadi seribu tahun yang lalu._
You Might Also Like: 16 Exploring Enterprise Service Bus In

0 Comments: