Baiklah, inilah cerita pendek bergaya *dracin* yang kamu minta: **Aku Menangis Saat Mendengar Namamu di Tubuh Lain** Malam itu rembulan menggantung rendah, serupa keping perak yang jatuh di kolam tinta. Alunan *guqin* dari Paviliun Anggrek merayap pelan, menjalar ke relung hatiku yang remuk. Suara itu, alunan yang dulu sering menemaniku dan *dia*, kini terasa menusuk. Lima tahun. Lima tahun aku memendam luka, berpura-pura tuli saat bisik-bisik tentang pernikahan megah itu sampai ke telingaku. Li Wei, **NAMA** itu, diucapkan dengan begitu bangga oleh bibir-bibir yang dulu juga memujiku. Li Wei, *kekasihku*, kini menjadi suami Lin Rouxi, putri tunggal Jenderal Lin yang perkasa. Aku, Mei Hua, hanya seorang gadis desa. Terlalu hina untuk bersanding dengannya. Terlalu lemah untuk menuntut. Begitulah pikir mereka. Tapi mereka **SALAH**. Aku diam bukan karena lemah, melainkan karena menyimpan **RAHASIA**. Rahasia yang akan menghancurkan Dinasti Xia jika terungkap. Rahasia yang membuatku harus mengorbankan cinta dan harga diri. Malam ini, aku mendengar namamu lagi. Bukan dari bibir mereka yang memujamu, melainkan dari bibir Lin Rouxi. Dia menjeritkan namamu dalam tidurnya. Tapi bukan hanya namamu. Dia menyebutkan nama **YANG LAIN**. Nama seorang tabib istana, Wang Zhao. Sebuah misteri mulai merayap dalam benakku. Lin Rouxi, yang dikenal suci dan setia, ternyata menyimpan rahasia kelam. Perlahan, benang-benang kusut itu mulai terurai. Aku ingat tatapan aneh Wang Zhao padaku, bisik-bisik di balik tirai bambu, dan ramuan yang selalu diminum Lin Rouxi. Kebenaran itu **MENGERIKAN**. Lin Rouxi tidak subur. Keluarga Lin, yang mendambakan pewaris, diam-diam menggunakan jasa Wang Zhao untuk melakukan inseminasi buatan. Benih siapa yang mereka gunakan? Bukan Li Wei, melainkan Wang Zhao. Anak yang dikandung Lin Rouxi, pewaris Jenderal Lin, adalah anak haram hasil perselingkuhan! Aku bisa saja membongkar semuanya. Membalas dendam. Tapi aku memilih diam. Biarlah takdir yang bekerja. Beberapa bulan kemudian, Kaisar jatuh sakit parah. Jenderal Lin, yang kekuatannya sudah sangat besar, mulai menunjukkan gelagat ingin merebut tahta. Li Wei, yang terhimpit antara loyalitas pada mertuanya dan kesetiaannya pada Kaisar, berada dalam dilema. Pada saat itulah, putra Lin Rouxi lahir. Seorang bayi laki-laki yang sehat dan kuat. Jenderal Lin sangat bahagia. Dia mengumumkan bahwa cucunya adalah anugerah dari langit, bukti bahwa dialah yang paling pantas memimpin Dinasti Xia. Tapi, *takdir* punya rencana lain. Tidak lama kemudian, Wang Zhao, sang tabib istana, ditemukan tewas dengan wajah membiru. Racun. Sebelum meninggal, dia sempat menuliskan surat wasiat yang ditujukan pada Kaisar. Isi surat itu, tentu saja, mengungkap semuanya. Kaisar murka. Jenderal Lin ditangkap dan dieksekusi atas tuduhan pengkhianatan. Li Wei, yang tidak bersalah, diasingkan ke perbatasan utara. Lin Rouxi, yang hancur karena kehilangan suami dan ayah, gila. Anak haram itu, yang seharusnya menjadi pewaris dinasti, menjadi anak yatim piatu yang hina. Aku menyaksikan semua itu dari kejauhan. Tanpa senyum, tanpa air mata. Balas dendamku tidak berdarah. Hanya *takdir* yang berbalik arah. Pahit, namun indah. Aku mendengar kabar bahwa Li Wei meninggal dunia di perbatasan utara. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, dia memanggil namaku. Dan aku, di sini, di Paviliun Anggrek, di bawah rembulan yang sunyi, hanya bisa menghela nafas… …_apakah dia tahu, bahwa rahasia yang kulindungi selama ini, adalah rahasia tentang dirinya?_
You Might Also Like: 56 Review Skincare Lokal Dengan

0 Comments: