Baiklah, ini dia kisah puitis ala drama Tiongkok (Dracin) dengan sentuhan bahasa Indonesia yang indah dan metaforis: **Kau Mencintaiku Lagi, Tapi Aku Sudah Tak Punya Hati** Kabut lembayung menari di atas Danau Bulan Sabit, menyelimuti pagoda yang menjulang bagai mimpi yang terlupa. Di sanalah, dalam remang cahaya senja yang **abadi**, ku lihat bayangmu. Atau, mungkinkah hanya pantulan rindu di permukaan air yang beku? Wajahmu, seindah lukisan kuno yang nyaris pudar, menyimpan sejuta janji yang tak terucap. Mata phoenixmu, dulu membara untukku, kini berpendar dengan kelembutan yang **asing**. Kau kembali, setelah sekian musim gugur meluruhkan dedaunan kenangan. Kau berbisik, suaramu bagai alunan seruling bambu yang menusuk kalbu, "Aku mencintaimu, *seperti dulu*." Tapi, hatiku... *di manakah ia kini*? Dulu, ia adalah taman bunga persik yang bermekaran, dipenuhi kicau burung dan hangatnya mentari. Sekarang, hanyalah padang pasir yang tandus, dihantam badai kesepian yang tak berkesudahan. Setiap butir pasir adalah air mata yang jatuh, setiap hembusan angin adalah kerinduan yang tak terbalas. Kau mendekat, tanganmu terulur bagai akar pohon willow yang mencari kehidupan. Sentuhanmu *dingin*, tidak lagi membangkitkan gemuruh di dadaku. Ia hanya mengingatkanku pada *kehampaan* yang menganga. Dalam mimpi yang berkepanjangan ini, aku melihat kita berdansa di bawah hujan bunga sakura. Kau tertawa, tawamu adalah melodi yang menghancurkan. Aku mencoba meraihmu, tapi tanganmu *tembus pandang*. Semua ini... hanyalah ilusi. Suatu malam, di antara tumpukan surat cinta yang tak pernah terkirim, aku menemukan sebuah lukisan. Di sana, tergambar diriku, memeluk seorang pria yang wajahnya tidak asing. Di belakangnya tertulis dengan tinta emas: *"Kau Mencintaiku Lagi, Tapi Aku Sudah Tak Punya Hati"*. Pria itu... adalah kau. Dan di saat itulah, semua *terungkap*. Aku tidak kehilangan hati karena kau pergi. Aku tidak pernah memilikinya. Kita hanyalah dua jiwa yang terperangkap dalam lukisan yang sama, terikat oleh takdir yang *tragis*. Kau selalu mencintaiku, *tapi aku... hanyalah bayangan*. Kau mencintaiku lagi... tetapi aku sudah tak punya hati untuk mencintaimu balik, karena yang kumiliki adalah kekosongan yang berwujud dirimu sendiri. _Apakah kau ingat janji kita di bawah pohon teratai yang mekar seribu tahun sekali?_
You Might Also Like: Reseller Skincare Supplier Kosmetik
0 Comments: