Lembah Seribu Bintang, tempat di mana kita tumbuh, kini terasa seperti pusara kenangan. Dulu, tawa kita menggema di antara tebing-tebing, s...

Wajib Baca! Bayangan Yang Terlahir Dari Rasa Sakit Wajib Baca! Bayangan Yang Terlahir Dari Rasa Sakit

Wajib Baca! Bayangan Yang Terlahir Dari Rasa Sakit

Wajib Baca! Bayangan Yang Terlahir Dari Rasa Sakit

Lembah Seribu Bintang, tempat di mana kita tumbuh, kini terasa seperti pusara kenangan. Dulu, tawa kita menggema di antara tebing-tebing, sekarang hanya gema ratapan yang menemani malam-malamku. Ling Wei, saudaraku… atau setidaknya, itu yang aku percaya selama ini.

Kita dilahirkan di tengah kekacauan, pewaris dua klan yang berseteru. Ayahku, pemimpin Klan Naga Emas, dan ibumu, penguasa Klan Phoenix Perak, berharap persahabatan kita akan menjembatani jurang permusuhan. Kita berlatih bersama, bertarung bersama, bahkan bermimpi tentang dunia yang sama – dunia tanpa darah dan dendam. Tapi, mimpi itu hancur berkeping-keping, seiring terkuaknya RAHASIA.

Ingatkah kau malam itu, Ling Wei? Malam bulan purnama ketika Ayah dibunuh? Aku bersumpah, aku melihat bayanganmu menyelinap pergi dari kamarnya. Tapi, kau menyangkal. Kau bilang kau sedang berlatih di Air Terjun Bulan Sabit. Aku percaya. Aku ingin percaya. Kita adalah saudara.

"Lin Yue," ucapmu suatu hari, senyummu setajam belati. "Kau terlalu polos untuk dunia yang kejam ini. Kekuatan adalah segalanya. Loyalitas adalah ilusi."

Kata-katamu terasa seperti racun yang merayapi nadiku. Aku mulai meragukan segalanya. Motifmu, senyummu, bahkan setiap sentuhan tanganmu. Apa persahabatan kita hanyalah topeng? Apakah kau sudah merencanakan semua ini sejak awal?

Aku mulai mencari kebenaran. Di antara gulungan-gulungan kuno di perpustakaan klan, aku menemukan catatan tersembunyi. Ibunya, penguasa Klan Phoenix Perak, telah membuat kesepakatan dengan faksi pemberontak dari Klan Naga Emas. Mereka ingin menyingkirkan Ayah, membuka jalan bagi aliansi yang lebih kuat – aliansi yang akan membuat Klan Phoenix Perak menjadi yang terkuat.

Dan kau, Ling Wei… kau adalah bidak dalam permainan mereka.

PENGKHIANATAN itu menelanku bulat-bulat. Rasa sakitnya membakar lebih panas dari api neraka. Tapi, di balik rasa sakit itu, muncul tekad yang membara. Aku akan membalas dendam. Aku akan menghancurkan semua yang kau cintai.

"Kau tahu, Ling Wei," kataku saat kita akhirnya berhadapan di lembah tempat kita tumbuh. Pedangku terhunus, memantulkan cahaya bulan purnama. "Aku selalu menganggapmu saudaraku. Tapi, kau memilih jalan yang berbeda. Jalan yang penuh darah dan kebohongan."

Pertarungan kita adalah tarian kematian. Setiap ayunan pedang, setiap desahan napas, adalah pengakuan. Pengakuan tentang cinta yang berubah menjadi benci, persahabatan yang dikhianati, dan kebenaran yang pahit.

Di saat-saat terakhirmu, saat pedangku menembus jantungmu, aku melihat penyesalan di matamu.

"Lin Yue… Aku…" bisikmu, darah mengalir dari bibirmu. "Aku melakukan ini… untuk melindungi… DIRIMU…"

Dunia berputar. Kebenaran itu menghantamku seperti gelombang tsunami. Melindungi? Melindungi dari apa? Dari siapa? Semua yang kukira benar, hancur berkeping-keping.

Apakah aku telah melakukan kesalahan besar? Apakah aku telah membunuh satu-satunya orang yang benar-benar menyayangiku?

Aku terjatuh berlutut di samping tubuhmu, tanganku berlumuran darah. Lembah Seribu Bintang terasa lebih dingin dari sebelumnya.

"Aku…seharusnya…mendengarkanmu…"

You Might Also Like: 96 Charlie And Chocolate Factory

0 Comments: