Baiklah, ini dia kisah pendek bergaya Dracin berjudul 'Pelukan yang Menyimpan Kebenaran': **Pelukan yang Menyimpan Kebenaran** Hujan abu-abu menggantung di langit Shanghai, meniru suasana hatiku. Dari balik jendela apartemen mewahku, kulihat lampu-lampu kota berkilauan redup, seolah mengejek kebahagiaan semu yang pernah kurasakan. Lima tahun. Lima tahun aku mencintai Li Wei. Senyumnya, seperti matahari terbit di musim semi, selalu berhasil menghangatkan hatiku yang dingin. Pelukannya, seharusnya menjadi tempat aman, *nyatanya*, kini terasa seperti lilitan ular yang beracun. Kami bertemu di galeri seni. Aku, seorang kurator muda yang ambisius, dan dia, seorang pelukis dengan bakat yang menjanjikan. Cintaku padanya tumbuh perlahan, seperti lukisan yang detailnya ditambahkan sedikit demi sedikit, hingga menjadi sebuah mahakarya. *Namun*, mahakarya itu kini bernoda, robek oleh pengkhianatan. Aku ingat dengan jelas malam itu. Aroma dupa cendana memenuhi penthouse kami. Li Wei berlutut, menggenggam tanganku erat. "Xiao Mei, menikahlah denganku. Aku berjanji akan mencintaimu selamanya." Janji. Kata itu kini terasa seperti belati yang ditikamkan tepat ke jantungku. Aku menemukannya bersama wanita lain. Bukan sekadar perselingkuhan biasa. Wanita itu, Zhao Lin, adalah pewaris grup bisnis yang sangat berpengaruh. Pernikahan dengan Zhao Lin akan membuka pintu bagi Li Wei menuju ketenaran dan kekayaan yang tak terbayangkan. Aku hanyalah batu loncatan. Tapi aku, Xiao Mei, bukanlah wanita lemah. Aku tidak menangis, tidak mengamuk. Aku menyembunyikan luka di balik senyum elegan, mengatur postur tubuh dengan anggun. Aku adalah *Ratu Es*, dan es akan membungkam api pengkhianatan. "Selamat," ucapku pada Li Wei di hari pernikahannya dengan Zhao Lin. Suaraku tenang, nyaris berbisik. "Kuharap kau bahagia." Aku menyerahkan amplop putih padanya. Di dalamnya, bukan surat cinta, melainkan bukti transfer dana besar-besaran ke rekening bank Li Wei – dari rekening perusahaan milik Zhao Lin. Bukti yang akan membuat Zhao Lin meragukannya, mencurigainya, dan akhirnya, meninggalkannya dalam kehancuran. Aku tahu, ini bukan balas dendam yang berdarah-darah. Ini bukan pembunuhan karakter di depan publik. Ini adalah *balas dendam yang sempurna*: membuatnya menyesal telah meremehkanku, membuatnya hidup dalam penyesalan abadi, melihat mimpinya hancur di depan mata, tanpa ada yang bisa disalahkan selain dirinya sendiri. Aku tidak membencinya. Aku hanya *kecewa*. Sangat kecewa. Aku berbalik, meninggalkan pesta pernikahan itu dengan kepala tegak. Hujan abu-abu masih menggantung di langit Shanghai. Kini, air mataku tak terasa lagi. Hanya ada kehampaan. Di dalam mobil, aku meraih ponselku. Sebuah pesan singkat terkirim. *“Tugas selesai.”* Cinta dan dendam… lahir dari tempat yang sama, bukan?
You Might Also Like: Dracin Populer Air Mata Yang Menjadi

0 Comments: