**Bayangan yang Menatap Dari Dunia Lain** Hujan turun di atas pusara, *selamanya*. Seperti air mata yang tak pernah kering, membasahi tanah merah tempat Li Wei bersemayam. Bukan jasadnya yang ada di sana, tentu saja. Jasad hanyalah wadah, dan Li Wei telah lama berpisah dari wadah rapuh itu. Sekarang, ia adalah *roh*, bayangan yang terikat pada dunia yang ditinggalkannya. Dulu, ia seorang pelukis. Karya-karyanya, lukisan-lukisan lanskap dengan warna-warna redup dan sentuhan melankolis, dipajang di galeri-galeri ternama. Tapi, kebahagiaan itu dipadamkan oleh penyakit yang menggerogoti tubuhnya perlahan. Ia pergi sebelum sempat mengucapkan apa yang *seharusnya* ia katakan. Kini, ia kembali. Bukan sebagai Li Wei yang dulu. Bukan sebagai seniman yang dikenal. Ia adalah *penghuni antara dua dunia*, merasakan dinginnya kematian dan hangatnya kehidupan secara bersamaan. Ia mengikuti jejak-jejak yang ditinggalkannya, melayang di lorong-lorong rumahnya yang kini sunyi, menatap potret dirinya yang tersenyum hambar dari dinding. Rumah itu, sebuah rumah tua dengan taman yang dipenuhi bunga lili putih, kini dihuni oleh adiknya, Mei. Mei, yang selalu berada di sisinya, merawatnya dengan penuh kasih sayang hingga napas terakhirnya. Mei, yang menyimpan sebuah *RAHASIA* di balik senyumnya yang tabah. Li Wei melihat Mei. Ia melihat kesedihan yang tersembunyi di balik matanya, kerutan halus di dahinya yang menandakan beban yang ia pikul sendirian. Ia melihat Mei *menderita*. Setiap malam, Li Wei menatap Mei dari sudut kamarnya. Ia berusaha berkomunikasi, menyentuhnya, mengatakan apa yang *dulu* ingin ia sampaikan. Tapi, ia hanyalah bayangan. Sebuah bisikan yang tak terdengar, sentuhan yang tak terasa. Hujan terus turun. Suatu malam, Mei duduk di depan meja kerjanya. Di hadapannya, sebuah lukisan Li Wei yang belum selesai. Sebuah lukisan pohon sakura yang kehilangan bunganya, ranting-rantingnya menjulang ke langit seolah memohon ampun. Mei menangis. Li Wei mendekat. Ia melihat Mei meraih sebuah amplop dari laci mejanya. Amplop itu berisi surat dari dokter yang merawatnya. Surat yang menunjukkan bahwa penyakitnya sebenarnya bisa disembuhkan, jika saja... jika saja ia mau menerima pengobatan yang lebih agresif. *KEBENARAN* terungkap. Mei menyembunyikan surat itu darinya. Mei, yang mencintainya, memilih untuk membiarkannya pergi dengan damai daripada melihatnya menderita lebih lama. Kemarahan? Tidak. Yang Li Wei rasakan hanyalah *KEIBAAN*. Ia mengerti. Ia memahami alasan Mei. Ia tidak ingin balas dendam. Ia hanya ingin kedamaian. Kedamaian untuk dirinya, kedamaian untuk Mei. Ia mendekat ke arah Mei. Ia membisikkan, "*Maafkan aku*." Tiba-tiba, cahaya menyilaukan memenuhi ruangan. Li Wei merasakan dirinya tertarik menjauh, meninggalkan dunia fana ini. Ia menoleh ke arah Mei, dan melihat senyum kecil di bibirnya. Senyum yang penuh penyesalan, namun juga penuh kelegaan. Saat bayangan itu menghilang bersama fajar yang merekah, *akhirnya*, ia baru saja tersenyum untuk terakhir kalinya.
You Might Also Like: Customer Experience Management Ultimate

0 Comments: