**Aku Menatap Fotomu di Surat Kabar, dan Masih Mencium Jejak Rindumu** Hujan berderai di luar jendela, sama persis seperti malam itu. Malam ...

Cerita Populer: Aku Menatap Fotomu Di Surat Kabar, Dan Masih Mencium Jejak Rindumu Cerita Populer: Aku Menatap Fotomu Di Surat Kabar, Dan Masih Mencium Jejak Rindumu

Cerita Populer: Aku Menatap Fotomu Di Surat Kabar, Dan Masih Mencium Jejak Rindumu

Cerita Populer: Aku Menatap Fotomu Di Surat Kabar, Dan Masih Mencium Jejak Rindumu

**Aku Menatap Fotomu di Surat Kabar, dan Masih Mencium Jejak Rindumu** Hujan berderai di luar jendela, sama persis seperti malam itu. Malam saat janji kita remuk, malam saat kau memilih dia, malam saat hatiku hancur berkeping-keping. Sekarang, fotomu terpampang di halaman depan surat kabar. Senyum kemenangan yang dulu kubenci, kini terasa seperti sayatan di luka yang belum kering. "Konglomerat Muda Raih Penghargaan," begitu tulisnya. Penghargaan? Kau dibayar mahal untuk kebahagiaanku. Aku masih ingat aroma lilac yang selalu menempel di rambutmu. Setiap kali kau memelukku, aroma itu memenjara rinduku. Kini, aroma itu berganti menjadi parfum mahal yang pasti dipilihkan oleh istrimu. Parfum kemenangan. Parfum pengkhianatan. *Dulu*, kau bilang, "Kita akan menikah di bawah pohon sakura yang mekar sempurna." *Dulu*, kau berjanji, "Aku akan menjagamu selamanya." *Dulu*, kau mencintaiku. Dulu, sebelum semua ini menjadi abu. Yang paling menyakitkan bukanlah kepergianmu, tetapi janji-janji manis yang kini menjadi hantu. Aku bisa saja membencimu dengan segenap jiwa, namun bayangmu terlanjur berakar dalam hatiku. Seperti benalu yang menghisap sari pati kehidupan, kau mencuri kebahagiaanku, meninggalkan rasa sakit yang tak tersembuhkan. Aku masih menyimpan *foto* kita. Foto saat kita masih muda, bodoh, dan penuh harapan. Foto saat kau menggenggam tanganku erat, seolah tak akan pernah melepaskannya. Ironis. Bertahun-tahun aku membangun kembali diriku. Dari puing-puing patah hati, aku menciptakan benteng yang kokoh. Aku belajar untuk tidak bergantung pada siapa pun, untuk tidak percaya pada janji-janji manis. Aku belajar untuk **BERTAHAN.** Dan sekarang, giliranmu. Kau tahu, perusahaan keluargaku selama ini menjadi pemasok utama bahan baku untuk bisnis keluargamu. Aku sengaja tidak memperbarui kontrak. Biarkan ambisimu runtuh seperti menara kartu. Biarkan kau merasakan sedikit saja sakit yang pernah kurasakan. Tidak, ini bukan aku yang membalas dendam. Ini hanya… karma. Alam semesta punya cara unik untuk menyeimbangkan segalanya. Senyumku tipis saat kulihat berita kebangkrutan perusahaanmu di layar televisi. Mungkin, hanya *mungkin*, kau akan mengerti arti sebuah kesetiaan yang hilang. Mungkin, hanya mungkin, kau akan merasakan penyesalan yang sama. Apakah aku akan memaafkanmu jika kau datang padaku, berlutut dan memohon ampun? Aku tidak tahu. Yang kutahu, jejak rindumu masih terasa pahit di lidahku, dan *bayanganmu* akan terus menghantuiku... sampai keadilan sepenuhnya ditegakkan, entah olehku atau oleh takdir.
You Might Also Like: The Ultimate Guide To Handling And

0 Comments: