Baiklah, inilah kisah dracin berjudul 'Aku Menggenggam Pedang Warisanmu, Tapi Bilahnya Menyebut Namamu', yang berlatar di istana penuh intrik dan rahasia: **Aku Menggenggam Pedang Warisanmu, Tapi Bilahnya Menyebut Namamu** Aula Emas menjulang tinggi, pilar-pilarnya memantulkan cahaya obor yang menari-nari. Di bawahnya, para pejabat istana berdiri tegak, wajah mereka tanpa ekspresi namun mata mereka *menusuk*, saling menilai, mencari celah. Bisikan-bisikan bagai desiran angin beracun merayapi tirai sutra yang membatasi ruang pribadi Kaisar. Di sinilah, di jantung *KERAJAAN*, intrik dan kekuasaan bertautan, cinta dan pengkhianatan berdansa dalam simfoni yang mematikan. Putri Mahkota Lian, berdiri di samping singgasana yang kosong, mengenakan jubah naga keemasannya. Di tangannya, tergenggam erat *PEDANG* *Warisan*, peninggalan suci Dinasti. Namun, matanya yang seindah batu giok itu menyimpan badai yang tersembunyi. Ia adalah *putri*, pewaris tahta, namun ia juga seorang wanita yang mencintai Jenderal Zhao, tangan kanan Kaisar yang paling setia. Zhao, dengan bahu lebar dan pandangan setajam elang, adalah perwujudan kesetiaan dan keberanian. Ia adalah *perisai* kerajaan, sekaligus duri di mata para pangeran ambisius. Cintanya pada Lian adalah rahasia yang ia simpan dalam-dalam, sebuah bara api yang membara di balik wajah tanpa emosi. "Lian," bisik Zhao suatu malam, di taman tersembunyi di balik istana. Cahaya rembulan memandikan wajahnya, membuatnya tampak seperti dewa perang. "Cinta kita... adalah **BAHAYA**. Ini adalah permainan takhta, di mana setiap janji adalah pedang." Lian mendongak, air mata menggenang di pelupuk matanya. "Aku tahu, Zhao. Tapi aku tidak bisa menahannya. Aku mencintaimu... melebihi takhta ini." Janji itu diucapkan di bawah *REMbulan*, sebuah sumpah cinta yang terlarang. Namun, di istana, tidak ada rahasia yang abadi. Intrik merajalela. Para pangeran, yang haus akan kekuasaan, melihat cinta Lian dan Zhao sebagai kelemahan yang bisa dimanfaatkan. Mereka menyebarkan fitnah, menabur benih keraguan di hati Kaisar, dan menjebak Zhao dalam pengkhianatan yang tak pernah dilakukannya. Zhao dijatuhi hukuman mati. Di hari eksekusi, Lian menyaksikan dengan hati hancur saat kekasihnya digiring menuju altar pengorbanan. Ia ingin berteriak, ingin membela Zhao, tapi ia terikat oleh takdirnya, oleh janjinya sebagai Putri Mahkota. Saat pedang algojo diangkat, Lian merasakan amarah yang membakar. Ia menggenggam erat Pedang Warisan. *BILAHNYA* terasa bergetar di tangannya. Ia mendengar bisikan, bukan bisikan cinta, tapi bisikan *DARAH* dan *BALAS DENDAM*. Lian tidak berteriak. Ia tidak menangis. Ia hanya mengangkat Pedang Warisan, dan dengan satu gerakan yang *ELEGAN*, *DINGIN*, dan *MEMATIKAN*, ia menebas leher para pangeran yang berkhianat. Darah mereka membasahi Aula Emas, mengubahnya menjadi sungai merah yang mengerikan. Kaisar, yang menyaksikan semuanya dengan mata terbelalak, hanya bisa terdiam. Lian berdiri di sana, di tengah genangan darah, dengan Pedang Warisan di tangannya. Bilahnya bersinar, memantulkan api yang membara di matanya. "Aku telah membalas kematian Zhao," ucapnya, suaranya dingin dan tanpa emosi. "Dan sekarang... Aku akan memerintah dengan caraku sendiri." Lian menoleh pada Kaisar, senyum tipis namun mengerikan terukir di bibirnya. Pedang Warisan terangkat, bayangan membentang panjang, menutupi wajah Kaisar dalam kegelapan. ...dan *SEJARAH* istana baru saja menulis ulang dirinya sendiri.
You Might Also Like: 7 Cara Tabir Surya Lokal Untuk Kulit

0 Comments: