Baiklah, ini dia kisah pendek bergaya Dracin berjudul 'Aku Adalah Hantu di Cintanya yang Tak Mau Pergi': **Aku Adalah Hantu di Cinta...

Absurd tapi Seru: Aku Adalah Hantu Di Cintanya Yang Tak Mau Pergi Absurd tapi Seru: Aku Adalah Hantu Di Cintanya Yang Tak Mau Pergi

Absurd tapi Seru: Aku Adalah Hantu Di Cintanya Yang Tak Mau Pergi

Absurd tapi Seru: Aku Adalah Hantu Di Cintanya Yang Tak Mau Pergi

Baiklah, ini dia kisah pendek bergaya Dracin berjudul 'Aku Adalah Hantu di Cintanya yang Tak Mau Pergi': **Aku Adalah Hantu di Cintanya yang Tak Mau Pergi** Hujan Seoul malam itu membasahi hatiku yang sudah lama kering. Di balik jendela apartemen mewah yang dulu kurasa hangat, kini hanya ada dingin yang menusuk tulang. Aku, Aileen, berdiri bagaikan hantu—seorang hantu di cintanya yang tak mau pergi. Dulu, tatapannya adalah mentari pagiku. Senyumnya, candu yang membuatku rela melakukan apa saja. Pelukannya… *oh, pelukannya*, adalah rumah tempatku berlindung dari dunia. Tapi, rumah itu kini telah terbakar, menyisakan abu dan bara yang menghanguskan. Dia, Li Wei, pria yang kucintai lebih dari diriku sendiri, *mengkhianatiku*. Bukan dengan amarah yang membara, tapi dengan senyum *menipu* yang dulu kurasa menenangkan. Bukan dengan kata-kata kasar, tapi dengan pelukan *beracun* yang membelit leherku perlahan. Janjinya, yang dulu kurajut menjadi permadani indah, kini hanyalah *belati* yang menggores jiwaku tanpa ampun. Aku tidak menangis. Tidak berteriak. Aku hanya tersenyum tipis, menyembunyikan luka di balik gaun sutra berwarna emerald yang membalut tubuhku. Elegansi adalah tamengku. Ketenangan adalah senjataku. Karena aku tahu, balas dendam terbaik bukanlah darah, melainkan penyesalan yang abadi. Aku mengumpulkan bukti. Dengan sabar dan teliti, aku membuka tabir kebohongannya. Aku menelusuri jejak-jejak perselingkuhannya, membongkar skandal bisnisnya, dan menghancurkan citra sempurna yang selama ini ia bangun dengan susah payah. Semuanya kulakukan dengan *senyuman* di bibir. Ketika semua kartunya terbuka, aku duduk di hadapannya, di meja makan yang dulu menjadi saksi bisu kebahagiaan kami. Wajahnya pucat pasi. Matanya dipenuhi ketakutan. “Kau… tahu semuanya?” lirihnya. Aku mengangguk. “Tentu saja. Aku selalu tahu. Hanya saja, aku menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.” Aku melihat kehancuran di matanya. Aku merasakan kekuasaan di tanganku. Tapi, ada sesuatu yang aneh… Tidak ada kebahagiaan. Tidak ada kepuasan. Hanya ada kekosongan yang lebih besar dari sebelumnya. Dia kehilangan segalanya. Kariernya hancur. Reputasinya tercemar. Bahkan, wanita yang menjadi selingkuhannya meninggalkannya dalam kesengsaraan. Li Wei tinggal sendirian, dibayangi oleh *kesalahan* yang tak akan pernah bisa ia tebus. Aku pergi, meninggalkan dia dalam kehancurannya. Aku membiarkan dia merenungi pengkhianatannya. Aku memberinya hukuman yang jauh lebih berat dari kematian: hidup dalam penyesalan abadi. Tapi, sebelum aku benar-benar melangkah pergi, aku menoleh ke arahnya. Senyumku dingin, menusuk jauh ke dalam hatinya. "Kau tahu, Li Wei," bisikku, "Aku tidak membencimu. Aku hanya *menyayangi*mu terlalu dalam." Dan aku pergi, meninggalkan jejak hantu di hatinya. Karena cinta dan dendam, ternyata… lahir dari tempat yang sama.
You Might Also Like: Jualan Skincare Penghasilan Tambahan Di

0 Comments: