## Aku Memintamu Pergi, Tapi Langkahmu Masih Tinggal di Pikiranku Hujan turun. Bukan gerimis manja, melainkan curahan air mata langit yang membasahi nisan marmer dingin. Di balik rintik yang menari-nari itu, sosoknya berdiri. Bukan dalam wujud yang kukenal dulu, bukan dengan senyum hangat yang selalu mampu meluluhkan hatiku. Kini, ia adalah bayangan. Sepi. Dan **ADA** di sini, di antara dunia yang hidup dan yang mati. “Pergilah,” bisikku, lirih. Kata-kata itu seperti asap, menghilang ditelan angin basah. Aku memintanya pergi, saat ia masih bernapas. Aku memohon agar ia menjauh, demi keegoisanku sendiri. Tapi kini, bahkan setelah kematian merenggutnya, jejaknya masih membekas. Langkahnya masih tinggal di pikiranku, di setiap sudut rumah yang dulu kami bagi. Rumah itu kini terasa kosong, hampa, seperti jiwa yang kehilangan pasangannya. Dinding-dindingnya menyimpan percakapan yang tak terselesaikan, janji yang tak tertepati, dan kebenaran yang tak terucapkan. Kebenaran… itulah yang membawanya kembali. Aku merasakan kehadirannya di setiap malam. Bayangannya menolak pergi dari sudut kamar, aroma lavender yang dulu selalu ia pakai tiba-tiba menyeruak di antara keheningan. Aku tahu ia di sana. Mengamati. Menunggu. Awalnya, aku mengira ia datang untuk membalas dendam. Atas kata-kata pedasku. Atas penolakanku. Atas cinta yang tak kubalas dengan semestinya. Aku siap menerima amarahnya, kemarahannya yang **PASTI** membara seperti api. Tapi ia tidak marah. Ia hanya diam. Ia membawaku ke tempat-tempat yang dulu kami kunjungi bersama. Taman bunga yang dipenuhi mawar merah, kafe kecil di ujung jalan di mana kami pertama kali bertemu, jembatan di atas sungai di mana ia melamarku. Di setiap tempat, ia hanya berdiri, menatap, seolah berusaha mengingat, seolah berusaha menyampaikan sesuatu. Kemudian, aku mulai mengerti. Ia tidak datang untuk membalas dendam. Ia datang untuk mencari kedamaian. Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk *kami*. Ia ingin aku tahu, bahwa ia tidak pernah menyesal mencintaiku. Bahwa ia memahami ketakutanku. Bahwa ia **SELALU** memaafkanku. Ia menuntunku menuju sebuah kotak kayu kecil yang terkubur di bawah pohon sakura di halaman belakang. Di dalamnya, terdapat sebuah surat. *“Untuk [Namamu],* *Jika kau membaca ini, berarti aku sudah pergi. Aku tidak menyalahkanmu atas apapun. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini. Dan aku berharap, kau akan menemukan kebahagiaanmu sendiri, meskipun tanpa diriku.* *Jangan pernah menyesali apa pun. Jalani hidupmu dengan sepenuh hati. Dan ingatlah, cintaku akan selalu bersamamu.* *Selamanya, [Namanya].”* Air mata membasahi pipiku. Bukan air mata penyesalan, melainkan air mata *kelegAan*. Ia telah mengampuniku. Ia telah memberiku kedamaian. Dan kini, ia bisa pergi dengan tenang. Saat mentari pagi menyingsing, bayangannya memudar. Semakin tipis, semakin transparan, hingga akhirnya menghilang ditelan cahaya. Ia telah menyelesaikan urusannya. Ia telah menemukan kedamaiannya. …Dan mungkin, ia baru saja tersenyum untuk terakhir kalinya, mengetahui bahwa akhirnya, aku pun juga menemukan kedamaianku.
You Might Also Like: Golgi Apparatus Structure And Function

0 Comments: