Baik, inilah cerita pendek bergaya dracin yang Anda minta: **Aku Menatap Fotomu di Surat Kabar, dan Masih Mencium Jejak Rindumu** Lampu meja...

Dracin Populer: Aku Menatap Fotomu Di Surat Kabar, Dan Masih Mencium Jejak Rindumu Dracin Populer: Aku Menatap Fotomu Di Surat Kabar, Dan Masih Mencium Jejak Rindumu

Dracin Populer: Aku Menatap Fotomu Di Surat Kabar, Dan Masih Mencium Jejak Rindumu

Dracin Populer: Aku Menatap Fotomu Di Surat Kabar, Dan Masih Mencium Jejak Rindumu

Baik, inilah cerita pendek bergaya dracin yang Anda minta: **Aku Menatap Fotomu di Surat Kabar, dan Masih Mencium Jejak Rindumu** Lampu meja di apartemenku meredup, menari-nari di antara bayangan. Koran di pangkuanku terbuka lebar, menampilkan wajahmu. Wajah **sempurna** yang dulu membuat jantungku berdebar tak karuan. Sekarang? Sekarang hanya rasa dingin yang menyelinap di tulang belakang. *RINDU*. Ya, aku masih merindumu. Atau mungkin, aku merindukan ilusi tentangmu yang pernah kurajut dengan begitu teliti. Musik *guqin* mengalun pelan dari speaker, melodi yang menusuk kalbu, persis seperti malam-malam yang kulalui semenjak kau pergi. Bukan pergi, lebih tepatnya, **menghilang**. Menghilang bersama sahabatku, Lin. Aku tahu. Aku tahu perselingkuhan itu. Aku tahu rencana kalian. Tapi aku memilih diam. Bukan karena aku lemah. Oh, bukan. Aku diam karena ada *RAHASIA* yang lebih besar yang harus kulindungi. Rahasia yang terukir dalam darahku, rahasia yang mengikatku pada keluarga *MAFIA* yang kutinggalkan bertahun-tahun lalu. Kau pikir aku hanya seorang penulis skenario drama murahan? Kau salah. Aku adalah anak dari *Lee Taeyong*, sang *Godfather*. Dan kau, dan Lin, kalian hanyalah pion dalam permainanku yang lebih besar. Ada yang janggal dalam foto di koran ini. Sebuah *KODE* samar di dasi yang kau kenakan. Dulu, kau selalu benci dasi itu. Dasi itu adalah pemberianku. Tapi sekarang, kode itu terbaca jelas: "TEMUI AKU DI JEMBATAN BAIHUA, TENGAH MALAM." Kenapa? Kenapa kau ingin bertemu denganku setelah sekian lama? Aku pergi. Angin malam menusuk kulitku, membawa aroma sungai dan kenangan pahit. Di jembatan, aku melihatmu. Bukan, bukan kau yang kukenal. Kau tampak ketakutan, matamu memancarkan penyesalan yang mendalam. "Xiao Mei," bisikmu parau, "Mereka... mereka tahu. Mereka tahu tentang *WARISAN* itu." Warisan? Warisan yang dimaksud adalah *DAFTAR NAMA* anggota mafia yang kusembunyikan? Daftar yang bisa menghancurkan keluarga Lee Taeyong, termasuk diriku sendiri? Lin muncul dari kegelapan, pistol di tangannya. Wajahnya keras, tanpa ekspresi. "Maaf, Xiao Mei. Ini harus kulakukan." Kau melindungiku. Kau mendorongku ke samping, menerima peluru yang seharusnya untukku. Darahmu membasahi jembatan. *Kau mati melindungiku?* Lin tertawa hambar. "Dia tahu. Dia tahu kau adalah *anak dari Lee Taeyong*. Dia tahu kau menyembunyikan *DAFTAR* itu. Dia berencana menyerahkanmu pada mereka." Aku menatap tubuhmu yang terbaring tak bernyawa. Semua kepingan puzzle itu akhirnya menyatu. Kau bukan berkhianat, kau justru melindungiku. Dan kau, Lin, kau hanyalah alat. Aku tidak menangis. Air mata sudah habis terkuras oleh pengkhianatan dan penyesalan. Lin mendekatiku, siap untuk menyelesaikan tugasnya. Tapi sebelum dia bisa menarik pelatuk, sebuah mobil berhenti di belakangnya. Orang-orang berpakaian hitam keluar, menariknya dengan kasar. *Keluargaku*. Takdir memang kejam. Kau mati demi melindungiku. Lin akan merasakan sakitnya dikhianati dan digunakan. Dan aku? Aku tetap hidup, terikat pada masa lalu yang ingin kulupakan. *Takdir telah berbalik arah. Balas dendam hadir tanpa kekerasan. Hanya takdir yang bermain.* Aku berbalik, meninggalkan jembatan Baihua. Musik *guqin* masih terngiang di telingaku, mengiringi langkahku yang berat. Daftar itu aman. Untuk saat ini. Namun, aku tahu, *PERMAINAN BARU SAJA DIMULAI*.
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Tafsir Bertemu Kepik

0 Comments: