## Kau Mencium Tanganku, Tapi Dinginnya Tak Pernah Hilang Hujan jatuh di atas makam. Bukan hujan deras yang mencambuk bumi, melainkan gerimis tipis yang menempel di nisan batu, seperti air mata yang tak terucap. Dinginnya meresap hingga ke tulang, bahkan menembus dunia yang memisahkan hidup dan mati. Aku berdiri di sini, di antara keduanya, abadi dalam limbo *kehilangan*. Lima tahun. Lima tahun sejak hari itu. Hari ketika kata-kata terakhirku tertahan di kerongkongan, tercekik oleh rasa takut yang ***membutakan.*** Sekarang, aku kembali. Bukan sebagai sosok utuh, melainkan bayangan pucat yang menolak pergi, aroma lavender yang menghantui sudut-sudut rumah tua itu. Setiap malam, aku mengawasi. Mengawasi Lin Mei, tunanganku. Ia masih sama. Rambut hitamnya tergerai panjang, wajahnya menyimpan bekas-bekas kesedihan yang tak pernah benar-benar pudar. Tangannya, yang dulu begitu hangat dalam genggamanku, kini terasa dingin. Dingin yang menusuk, seperti hujan di atas makam. Aku ingat malam itu. Malam sebelum *kecelakaan* itu. Pertengkaran kami. Kata-kata tajam yang terucap. Kebohongan yang kututupi dengan senyum getir. Aku ingin mengatakan yang sebenarnya, Lin Mei. Tentang hutang ayahku, tentang ancaman itu, tentang alasan mengapa aku *harus* menjauhimu. Tapi aku takut. Aku *terlalu* takut. Sekarang, aku hanya bisa menyentuhmu dalam mimpi. Berbisik di telingamu saat kau terlelap, menyampaikan penyesalan yang tak henti-hentinya. Kau sering terbangun dengan air mata membasahi pipi, dan aku, di sampingmu, *terasa semakin tidak berdaya.* Aku melihat bagaimana Chen Wei, sahabatku sekaligus rekan bisninku, menjagamu. Ia selalu ada untukmu, Lin Mei. Ia menemanimu melewati hari-hari suram, menawarkan bahu untuk bersandar. Aku tahu kau mencintainya. Atau setidaknya, kau belajar untuk mencintainya. Tapi aku juga melihat keraguan di matamu, Lin Mei. Keraguan yang mencerminkan *hatiku* sendiri. Aku mengerti sekarang. Aku tidak bisa memaksamu untuk terus terikat pada masa lalu. Aku harus membiarkanmu pergi. Aku harus membiarkanmu bahagia. Tapi sebelum itu, aku harus membersihkan namaku. Aku harus mengungkapkan kebenaran, agar kau tahu bahwa aku tidak pernah bermaksud menyakitimu. Aku mulai menuntunmu. Membimbingmu melalui mimpi dan firasat. Aku menunjukkanmu buku catatan ayahku yang disembunyikan, surat-surat ancaman yang ia terima, bukti-bukti yang akan membuktikan bahwa aku tidak bersalah. Kau mulai mengerti. Matamu yang indah itu dipenuhi dengan air mata, bukan lagi air mata kesedihan, melainkan air mata *pemahaman*. Akhirnya, kebenaran terungkap. Chen Wei, dengan bantuanmu, Lin Mei, berhasil membongkar jaringan kejahatan yang menjerat ayahku. Hutang lunas, nama baikku dipulihkan. Aku merasa ringan. Beban berat yang selama ini membebani pundakku, perlahan menghilang. Kau berdiri di depan makamku, Lin Mei. Kau mencium batu nisan itu, tempat di mana namaku terukir. "Aku tahu," bisikmu. "Aku tahu kau tidak bersalah." Aku mendekatimu. Aku ingin memelukmu, Lin Mei. Tapi aku hanyalah roh. Sentuhanku tidak akan terasa. Aku hanya bisa berdiri di sampingmu, *merasakan* kedamaian yang selama ini kurindukan. Aku tidak mencari balas dendam. Aku hanya mencari kedamaian. Kedamaian untuk diriku sendiri, dan kedamaian untukmu, Lin Mei. Sekarang, aku bisa pergi dengan tenang. Hujan berhenti. Matahari mulai menyinari makam. Bayangan yang menolak pergi, perlahan memudar. … _dan senyumku akhirnya bebas._
You Might Also Like: Seru Sih Ini Aku Menjadi Virus Cinta

0 Comments: