**Bayangan Itu Menyentuh Wajah Ratu, Seolah Masih Ada Cinta Yang Belum Mati** Hujan Jakarta, seperti biasa, adalah soundtrack kesedihan yang...

Cerpen Seru: Bayangan Itu Menyentuh Wajah Ratu, Seolah Masih Ada Cinta Yang Belum Mati Cerpen Seru: Bayangan Itu Menyentuh Wajah Ratu, Seolah Masih Ada Cinta Yang Belum Mati

Cerpen Seru: Bayangan Itu Menyentuh Wajah Ratu, Seolah Masih Ada Cinta Yang Belum Mati

Cerpen Seru: Bayangan Itu Menyentuh Wajah Ratu, Seolah Masih Ada Cinta Yang Belum Mati

**Bayangan Itu Menyentuh Wajah Ratu, Seolah Masih Ada Cinta Yang Belum Mati** Hujan Jakarta, seperti biasa, adalah soundtrack kesedihan yang sempurna. Derasnya air membasahi kaca jendela apartemen Ratu, memburamkan pemandangan gedung-gedung tinggi yang menjulang. Di tangannya, gelas kopi yang sudah dingin. Aromanya, dulu, adalah janji pagi yang hangat. Sekarang, hanya pengingat *pahit*. Notifikasi ponsel berdering. Bukan pesan dari dia. Bukan. Hanya iklan diskon kopi. Ratu menghela napas. Empat bulan. Empat bulan sejak pesan terakhirnya terkirim tanpa balasan. Empat bulan sejak bayangan Arya, mantan kekasihnya, perlahan memudar dari hidupnya. Namun, bayangan itu kadang *menyentuh wajahnya*, saat ia sedang menatap langit-langit kamar di tengah malam, saat ia tak sengaja mencium aroma parfum yang sama di sebuah kafe, saat ia menemukan foto mereka di dalam folder *tersembunyi* di ponselnya. Cinta mereka lahir di dunia maya. Pertemuan pertama adalah komentar iseng di unggahan seorang teman. Lalu, *klik*. Obrolan panjang hingga larut malam. Mimpi-mimpi yang dibagi. Rencana-rencana yang dibuat. Arya, dengan senyumnya yang menenangkan dan kecerdasannya yang memikat, membuatnya merasa dilihat, dipahami, *dicintai*. Namun, semuanya hancur secepat kilat. Sebuah undangan pernikahan muncul di linimasa media sosial. Bukan pernikahan mereka. Melainkan pernikahan Arya dengan wanita lain. Tanpa penjelasan. Tanpa perpisahan. Hanya *senyap*. Ratu mencoba melupakannya. Ia sibuk dengan pekerjaannya sebagai arsitek. Ia bertemu dengan orang-orang baru. Ia bahkan berkencan beberapa kali. Tapi, tak ada yang bisa menggantikan tempat Arya. Bayangan itu terlalu kuat. Kenangan itu terlalu dalam. Suatu malam, Ratu menemukan sesuatu yang aneh. Sebuah pesan yang belum terkirim di ponsel Arya. Pesan itu tersembunyi di antara ribuan chat lainnya. Pesan itu ditujukan untuknya. *“Ratu, maafkan aku. Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Tapi, percayalah, aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Ada sesuatu yang aku sembunyikan. Sesuatu yang akan menghancurkanmu jika kau tahu. Tunggu aku. Aku akan kembali.”* Ratu membeku. *RAHASIA*. Apa yang disembunyikan Arya? Kenapa ia menikah dengan wanita lain? Apa yang akan menghancurkannya? Ratu memulai penyelidikan diam-diam. Ia menggunakan semua koneksinya, semua keahliannya, semua keberanian yang tersisa di dalam dirinya. Ia melacak keluarga Arya, rekan-rekan kerjanya, bahkan mantan pacar-mantan pacarnya. Dan akhirnya, ia menemukan *K E B E N A R A N* yang mengerikan. Arya bukan orang yang ia kira. Ia terlibat dalam bisnis gelap keluarganya. Pernikahannya adalah bagian dari kesepakatan bisnis untuk menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan. Jika Ratu tahu, ia akan berada dalam bahaya. Marah, kecewa, terluka – Ratu merasa semuanya sekaligus. Arya melindunginya, tapi dengan cara yang *kejam*. Ratu memutuskan untuk membalas dendam. Bukan dengan teriakan, bukan dengan air mata. Tapi dengan *keanggunan*. Di hari ulang tahun pernikahan Arya, Ratu mengirimkan sebuah hadiah. Sebuah USB berisi semua bukti kejahatan Arya dan keluarganya. Bukti yang cukup untuk menjebloskan mereka ke penjara. Bukti yang cukup untuk menghancurkan kekaisaran mereka. Tak ada surat. Tak ada penjelasan. Hanya USB itu. Malam itu, Ratu menatap hujan Jakarta lagi. Ia merasa kosong, tapi juga *bebas*. Ia mengirimkan sebuah pesan terakhir ke nomor Arya yang sudah tidak aktif: *“Terima kasih atas kenangannya. Sekarang, giliranmu menghilang.”* Ratu mematikan ponselnya. Ia tersenyum tipis. Bayangan itu mungkin masih ada. Tapi, Ratu tahu, ia sudah *berdamai* dengan dirinya sendiri. Ia sudah menutup babak itu. Ia akan memulai hidup baru. Mungkin, suatu saat nanti, ia akan mencintai lagi. Tapi, *tidak hari ini*.
You Might Also Like: 55 Perbedaan Sunscreen Mineral Lokal

0 Comments: