**Senyum yang Kutemukan di Waktu Lain** Hujan musim gugur menyelimuti Shanghai, membasahi kaca jendela kafe tempatku duduk. Di hadapanku, Xiao Lin, pria yang pernah mendominasi seluruh pikiranku, meneguk tehnya dengan tenang. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun sejak janji itu diucapkan di bawah pohon sakura yang bermekaran, sepuluh tahun sejak aku menunggunya di stasiun kereta. "Kau tidak berubah, Meiling," ucapnya, suaranya serak, menembus riuh rendah kafe. Aku tertawa hambar. "Benarkah? Kupikir waktu telah mengukir cukup banyak garis di wajahku. Mungkin kau hanya tidak memerhatikannya." Mata Xiao Lin, mata yang dulu kupuja, kini redup. Ada penyesalan di sana, aku tahu. Penyesalan karena memilih ambisi daripada cinta, karena meninggalkan aku demi wanita lain, putri seorang konglomerat yang menjanjikan masa depan gemilang. "Aku... aku menyesal, Meiling. Sangat menyesal." Kata-kata itu, yang seharusnya menjadi obat bagi hatiku yang terluka, justru terasa seperti racun. Terlambat, Xiao Lin. TERLAMBAT! Dulu, aku bersedia menemanimu merangkak dari nol, bersedia makan mie instan setiap hari demi mendukungmu. Tapi kau memilih jalan pintas, memilih kemewahan instan. "Penyesalan tidak akan mengembalikan waktu, Xiao Lin. Juga tidak akan menghapus kenangan." Aku mengambil cangkir tehku, merasakan uap panasnya membakar telapak tanganku. Sama seperti luka yang kau torehkan dulu, membara dan tak terpadamkan. Kami terdiam, terjebak dalam ruang hampa yang diciptakan oleh masa lalu. Di luar, hujan semakin deras. Aku menatapnya, mempelajari setiap detail wajahnya yang mulai menua. Garis-garis kerutan di sekitar matanya, rambutnya yang mulai menipis, aura kesepian yang menguar dari tubuhnya. Apakah dia bahagia dengan kehidupannya? Apakah dia menemukan kebahagiaan yang dia cari dalam kemewahan dan kekuasaan? Aku ragu. "Kau tahu," lanjutku, suaraku pelan namun tajam, "istrimu... dia sakit." Xiao Lin tersentak. "Sakit? Sakit apa? Dia tidak pernah bilang padaku." Aku tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata. "Kanker. Stadium akhir. Para dokter tidak memberikan harapan." Wajah Xiao Lin pucat pasi. Dia menggenggam tanganku, memohon dengan tatapan putus asa. "Meiling, kumohon... jangan berbohong." "Aku tidak berbohong, Xiao Lin. Aku hanya... memberitahumu kebenaran. Aku, sebagai dokternya, bertanggung jawab untuk itu." Keheningan kembali menyelimuti kami, kali ini lebih berat dan mencekik. Aku melihat kepanikan dan ketakutan di mata Xiao Lin. *Karma*, bisikku dalam hati. Karma telah datang menjemputnya, dan aku hanyalah utusan takdir. Aku berdiri, merapikan jaketku. "Waktuku sudah habis. Aku harus kembali ke rumah sakit." Aku menatapnya sekali lagi, senyum pahit tersungging di bibirku. "Nikmati sisa waktumu bersamanya, Xiao Lin. Waktu adalah hadiah yang sangat berharga. Jangan sampai kau menyesal karena tidak memanfaatkannya sebaik mungkin." Aku berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Xiao Lin yang terpaku di kursinya, terperangkap dalam jaring masa lalu dan masa depan yang suram. Di luar, hujan mulai mereda, dan seberkas cahaya matahari menerobos awan kelabu. Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan hembusan angin dingin menyapu wajahku. Mungkin, *MUNGKIN*, senyum yang kutemukan di waktu lain adalah senyum kemenangan... atau mungkin hanya senyum perpisahan, karena di balik senyum itu, ada rasa sakit yang tak akan pernah hilang, dan mungkin juga... *rencana yang belum selesai*.
You Might Also Like: Skincare Pencerah Wajah Tanpa Iritasi

0 Comments: